Karena itu, Bung Karno juga kerap mengkritik praktik keberagamaan yang dianggap terlalu dogmatis dan hanya berpegang pada penafsiran literal terhadap ajaran agama. Kritik tersebut salah satunya tercermin dalam tulisan yang kemudian dikenal melalui buku Islam Sontoloyo.
“Bung Karno menginginkan Islam yang mampu membawa umat kepada kemajuan, bukan sekadar terjebak pada simbol dan formalitas,” kata Din.
Trisakti Dinilai Tetap Relevan
Selain menyoroti sisi keislaman Bung Karno, Din Syamsuddin juga mengangkat konsep Trisakti yang diwariskan sang proklamator.
Menurutnya, gagasan berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam budaya masih sangat relevan untuk menjawab berbagai tantangan bangsa saat ini.
“Para pemimpin bangsa seyogyanya menerapkan Trisakti secara konsisten dan konsekuen,” ujarnya.
Di akhir ceramahnya, Din berpesan agar PDI Perjuangan tetap menjaga kedekatan dengan umat Islam. Ia berharap Bamusi dapat terus menjadi sarana dakwah sekaligus jembatan yang mempertemukan nilai-nilai nasionalisme dan Islam sebagaimana dicontohkan Bung Karno.
Jejak Muhammadiyah dalam Pemikiran Bung Karno
Pandangan serupa juga disampaikan Ketua PP Muhammadiyah, Anwar Abbas. Dalam keterangan tertulisnya, ia mengingatkan kembali hubungan historis yang erat antara Bung Karno dan Muhammadiyah.
Menurut Anwar, Bung Karno sejak muda banyak belajar dari KH Ahmad Dahlan. Ajaran Islam yang diterimanya dari pendiri Muhammadiyah tersebut membentuk cara pandangnya terhadap agama, bangsa, dan kemajuan.
Anwar mengutip pandangan Bung Karno yang menyebut Muhammadiyah sebagai purification of the mind dan rejuvenation of the Islamic creed, yakni gerakan pemurnian pikiran dan pembaruan keyakinan Islam.
“Bagi Bung Karno, Muhammadiyah adalah gerakan yang membersihkan cara berpikir umat dari berbagai praktik yang tidak sesuai dengan ajaran Islam,” ujar Anwar.
Dari pemikiran itulah, lanjutnya, lahir keyakinan bahwa mencintai dan mengabdi kepada bangsa merupakan bagian dari ibadah kepada Allah SWT.





