Bocah Palestina Berusia 12 Tahun Ditembak Mati Polisi Israel saat Bermain Kembang Api selepas Buka Puasa

Ibu Rami, Rawia (50), memegang foto putranya. "Pelurunya ada di jantungnya," katanya.(BBC News/John Gunter)
Otoritas Israel Berkelit dan Ofensif

BBC pun meminta polisi Israel untuk memberikan bukti apa pun yang menunjukkan kekerasan, kerusuhan, atau insiden lain yang menimbulkan kekhawatiran di wilayah tersebut pada hari atau jam menjelang penembakan Rami. Atau bukti apa pun yang memberatkan Rami al-Halhouli. Namun, menurut laporan BBC, polisi Israel tidak memberikannya.

Kepolisian Israel malah merujuk pada pernyataan tertulis polisi yang diterbitkan pada Selasa (12/3) lalu, yang menggambarkan “gangguan kekerasan terjadi di kamp Shuafat, termasuk pelemparan bom molotov dan pelemparan kembang api langsung ke arah pasukan keamanan”.

Bacaan Lainnya

Dalam selebaran yang ditulis dalam bahasa Arab, dan didistribusikan oleh polisi Israel di kamp Shuafat, tertulis bahwa 15 – 20 pemuda berencana untuk pergi shalat pada malam hari, “dengan tujuan melanggar aturan, meluncurkan kembang api, dan melempar bom molotov”.

“Polisi tidak akan pernah menoleransi tindakan kekerasan dalam bentuk apa pun, dan akan mengambil tindakan tegas terhadap siapa pun yang melakukan kekerasan atau berupaya menyakiti mereka,” demikian isi selebaran tersebut.

Polisi Perbatasan Israel juga mengumumkan pada Rabu (13/3) malam, bahwa seorang petugas telah dibebaskan bersyarat dari tahanan setelah diinterogasi sehubungan dengan penembakan di kamp Shuafat.

Sebagai informasi, di Tepi Barat yang diduduki Israel telah terjadi peningkatan kekerasan sejak awal perang di Gaza. Setidaknya 418 warga Palestina, termasuk anggota kelompok bersenjata dan warga sipil, tewas dibunuh pasukan Israel—demikian menurut laporan PBB.

Pada periode yang sama, 15 warga Israel, termasuk empat personel pasukan keamanan, tewas.

Menurut data terkini dari organisasi hak asasi manusia Israel, B’Tselem, 519 anak dibunuh oleh Israel di Yerusalem Timur dan Tepi Barat antara tahun 2000 dan awal Oktober 2023.

“Israel mempunyai kebijakan untuk tidak terlalu mengambil tindakan ketika berurusan dengan warga Palestina,” kata Dror Sadot, juru bicara B’Tselem.

“Kami telah mendokumentasikan lusinan kasus seperti ini selama bertahun-tahun. Kami belum menyelidiki kasus spesifik ini di Shuafat, tapi tampaknya anak tersebut tidak menimbulkan bahaya bagi polisi,” ujar Sadot.

Salim Anati, seorang dokter yang tinggal dan bekerja di kamp Shuafat sejak kamp tersebut dibangun pada tahun 1965, berkata bahwa dia telah merawat setidaknya 20 anak selama bertahun-tahun.

Anak-anak itu, kata dia, kehilangan satu atau kedua mata mereka karena terkena peluru karet. Berdasarkan ingatannya, sedikitnya 10 anak tewas terbunuh pasukan Israel.

“Anak-anak banyak yang terluka, banyak yang dipenjara. Kalau tidak dipenjara tidak boleh keluar rumah,” kata Anati. “Ini adalah kehidupan yang sangat sulit bagi seorang anak di sini.”

“Rami bahkan tidak cukup beruntung untuk bisa melarikan diri dari kamp. Seluruh masa kecilnya berada di bawah pendudukan,” tambahnya. (BBC)◼︎

Pos terkait