Islam juga ingin menghapus perbudakan yang dilakukan secara bertahap dengan cara menjadikan membebaskan budak sebagai bagian dari kafarat (sangsi) ibadah. Dakwah ala Nabi yang mengagungkan dan memberikan tempat pada kearifan lokal itulah yang diteladani Wali Songo dalam menyebarkan Islam di nusantara. Salah satunya ialah batik sebagai warisan budaya leluhur Nusantara yang harus dilestarikan.
Saat para Wali Songo ingin mengajarkan nilai-nilai penting dalam Islam, seperti kewajiban menutup aurat, mereka memperkenalkan pakaian berupa kain yang memiliki corak indah, yang kemudian kita kenal sebagai batik.
Pada masa itu, banyak masyarakat yang belum menutup aurat, bahkan ada yang masih menggunakan pakaian berbahan daun. Dengan memperkenalkan batik, para Wali Songo secara halus menanamkan kesadaran pentingnya berpakaian secara Islami.
Salah satu pendekatan menarik dari para Wali Songo dalam memperkenalkan batik adalah melalui pendekatan simbolik Al-Qur’an. Mereka mengajarkan bahwa inti ajaran Al-Qur’an terangkum dalam surah Al-Fatihah, sementara inti dari Al-Fatihah terdapat dalam kalimat basmalah, dan inti dari basmalah ada pada huruf ba (ب), yang memiliki satu titik di bawahnya.
Konsep ini kemudian disederhanakan dan disimbolkan dalam kata “batik” — sebuah cara yang kreatif untuk menyebarkan pengetahuan agama sambil tetap menghargai kearifan lokal.
Sejatinya makna batik (ba’-titik) yang terinspirasi dari simbolisme Al-Qur’an yakni huruf Ba’ lafadz Basmalah. Menurut Syekh Sayid Bakari al-Makki bin Sayid Muhammad Syatho ad-Dimyati menjawab pertanyaan ini dalam kitabnya Kifayatul Atqiya wa Minhajul Asyfiya; Artinya: “Ulama ahli tasawuf mengatakan, ‘Alloh menitipkan seluruh ilmunya pada huruf ba’, yaitu karena kekuasaan-Ku (bii) wujudlah segala sesuatu yang telah ada, karena kekuasaan-Ku pula terwujud sesuatu yang akan ada, dan adanya alam semesta adalah atas kekuasaan-Ku.”
Hakikatnya, para Wali Songo ingin memperkenalkan Al-Qur’an dengan cara yang mudah bagi penduduk Nusantara, mereka mengajarkan bahwa Al-Qur’an adalah Pedoman umat Islam, yang inti dari Al-Qur’an terangkum dalam surah Al-Fatihah, dan inti dari surah Al-Fatihah terdapat pada Kalimat Basmalah, dan inti dari Basmalah terangkum pada huruf ba (ب), dan huruf ba (ب) ini dibawahnya ada titiknya (نقطة). Sehingga dipermudah untuk menghafalnya dengan sebutan ba-tik (huruf ba (ب) yang cirinya ada titik satu) kemudian para Wali Songo mempopulerkan kata batik.
Oleh karena itu, batik bukan sekadar selembar kain dengan motif yang indah. Ia adalah simbol kearifan yang mengandung filosofi mendalam, berakar pada ajaran-ajaran Islam yang diperkenalkan oleh Wali Songo.
Tiap motif, tiap titik, dan tiap garis yang tergurat pada batik bukanlah sekadar hiasan, melainkan representasi nilai-nilai luhur yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya bangsa Indonesia.
Batik memiliki nilai filosofis, estetis dan spiritual mendalam, bukan bukan hanya perkara fashion semata. Filosofi dalam pola batik merupakan harapan dan doa-doa yang menyebabkan batik selalu dihadirkan dalam berbagai upacara adat masyarakat etnik sehingga batik dianggap mempunyai kekuatan mistik religius tersendiri.
Berikut adalah ijtihad kreatif para Wali Songo dalam seni batik:
- Sunan Kalijaga
Dikenal sebagai pencetus surjan lurik. Surjan adalah model busana adat Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Yogyakarta, yang umumnya dipakai oleh laki-laki. Sunan Kalijaga mengembangkan surjan lurik, bermotif garis-garis vertikal, yang belakangan disebut sebagai pakaian takwa. Pemakaian surjan biasanya dipadukan dengan blangkon dan kain jarik. Sang Sunan juga memberikan torehan motif burung pada batik. Dalam bahasa Kawi, burung disebut “kukila”, yang dalam bahasa Arab merupakan rangkaian kata quu dan qiilla yang berarti peliharalah ucapanmu.
- Sunan Gunung Jati
Salah satu murid Sunan Gunung Jati yang mengajarkan seni membatik kepada masyarakat Cirebon adalah Ki Buyut Trusmi. Ki Buyut Trusmi mengajarkan seni membatik sembari menyebarkan agama Islam pada 1448-1568. Belakangan dikenal dengan nama batik Trusmi, sesuai pula dengan nama desanya. Motif yang menjadi ciri khas selain Mega Mendung adalah motif keratonan yang diambil dari arsitektur dan interior Keraton Kanoman Cirebon yang dibangun sang Sunan. Motif lainnya adalah motif pesisiran, yang menggambarkan kehidupan masyarakat pesisiran.
- Sunan Drajat
Di daerah Lamongan, ada museum khusus Sunan Drajat yang didirikan untuk menghormati jasa Sunan Drajat sebagai wali penyebar agama Islam. Salah satu isinya adalah batik Drajat, yang bermotif bunga teratai, burung garuda, singa, mahkota, dan kubah masjid. Motif-motif ini melambangkan kebijaksanaan untuk menangkal watak dan perilaku jahat, lebih mementingkan negara di atas kepentingan pribadi, dan melambangkan kekuasaan Tuhan.
- Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim
Salah seorang wali senior yang dianggap pertama kali menyebarkan ajaran agama Islam di Pulau Jawa. Daerah yang ditujunya pertama kali adalah Desa Sembalo, yang terletak di Kecamatan Manyar, salah satu kecamatan di Kabupaten Gresik. Kehadirannya direkam dalam motif Mahkota Giri, yang mengangkat napas Islami. Motif ini melambangkan lima rukun Islam, seperti yang diajarkan sang Sunan. Selain itu, motif ini mengandung makna Sunan Giri pernah memimpin Giri Kedaton. Motif lainnya adalah Sekar Pudak, yang bercorak enam kelopak bunga pudak. Motif ini menggambarkan enam rukun iman.
- Sunan Kudus dan Sunan Muria
Sunan Kudus dan Sunan Muria menambah kaya motif batik yang dihasilkan perajin batik di Kudus. Corak batik Kudus lebih cenderung condong ke batik pesisiran, dan cenderung mirip dengan batik Pekalongan. Batik Kudus sendiri dikenal juga sebagai batik nyonya atau batik saudagaran karena kehalusan dan kerumitan isen-isennya. Kehadiran kedua wali memperkaya khazanah batik Kudus, terutama Kudus Kulon, dengan motif kaligrafi. Ada juga motif kapal kandas yang terkait dengan sejarah perdebatan Sunan Muria dengan Sam Po Kong.
Dengan berkembangnya kerajinan batik, masing-masing daerah memiliki corak dan motif yang khas sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah. Kini hampir setiap daerah dari Sabang sampai Merauke mempunyai beragam hias batik dengan karakter yang berbeda. Yang mesti menjadi perhatian kita saat ini adalah kain batik sebagai warisan budaya bangsa hanya dimanfaatkan sekadar sandang atau kebutuhan dunia fashion. Masih banyak orang yang mengenakan batik tanpa tahu makna filosofi apa yang terkandung di dalam batik yang dikenakan. Selamat Hari Batik Nasional!*
