Ibrahim Datuk Tan Malaka, Bapak Republik, tokoh pejuang dan intelektual Indonesia, punya pandangan yang cukup kritis terhadap puasa Ramadhan. Menurut Tan, puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, namun harus diikuti dengan pengendalian diri secara keseluruhan—termasuk dalam perilaku dan pemikiran.
Tan Malaka mengkritisi puasa Ramadhan dalam bukunya yang berjudul Madilog: Materialisme, Dialektika, Logika, yang diterbitkan pada tahun 1946. Di dalam buku tersebut Tan menulis bahwa puasa Ramadhan harus dijadikan momentum untuk introspeksi dan refleksi diri, sekaligus untuk bergerak menuju perubahan yang lebih baik.
Puasa Ramadhan, menurut Tan Malaka, seharusnya tak hanya menjadi ajang untuk memperbanyak ibadah dan amalan ritual, tetapi yang tak kalah penting dari itu, juga harus diiringi dengan perbaikan moral dan sosial.

Dalam pandangan Tan Malaka menilai, puasa Ramadhan seharusnya menjadi ajang untuk membentuk karakter yang lebih baik, sehingga dapat menciptakan masyarakat yang lebih adil dan makmur.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan aktif umat Muslim dalam kegiatan sosial yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, seperti membantu orang miskin atau menyumbangkan sedekah.
Tan Malaka juga menyoroti kecenderungan perilaku sebagian umat Muslim yang ‘menunggangi’ puasa Ramadhan untuk bermalas-malasan dan meninggalkan tugas-tugas dan tanggung jawab sehari-hari.
Menurut dia, puasa harus dilakukan dengan tetap menjalankan kewajiban-kewajiban lainnya, seperti bekerja dan menyelesaikan tugas-tugas sekolah atau kuliah. Puasa tidak boleh menjadi alasan untuk menunda-nunda atau mengabaikan tanggung jawab yang telah diemban.
”Sumber yang saya peroleh untuk pasal ini (puasa dan agama Islam) adalah sumber hidup. Seperti sudah saya lintaskan dahulu, saya lahir dalam keluarga Islam yang taat. Ketika sejarah Islam di Indonesia bisa dikatakan masih pagi, di antara keluarga tadi sudah lahir seorang alim ulama, yang sampai sekarang dianggap keramat. Ibu-Bapak saya keduanya taat, takut pada Allah, dan menjalankan sabda Nabi,” demikian Tan Malaka mengungkapkan dasar pandangan kritisnya tentang puasa Ramadhan.
Tan Malaka memang dibesarkan dalam lingkungan Muslim yang taat, kendati sejarah Indonesia mencatatnya sebagai seorang ‘tokoh kiri’ yang terkesan sekuler—bahkan anti-Tuhan. Sebuah pandangan keliru yang dirawat dari generasi ke generasi.
Pandangan Tan Malaka tentang puasa Ramadhan menunjukkan bahwa dia melihat puasa sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri secara keseluruhan. Bukan hanya dalam aspek ibadah ritual, tetapi juga dalam aspek moral dan sosial.
Ia menekankan pentingnya keterlibatan aktif umat Muslim dalam kegiatan sosial yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, dan memperingatkan agar puasa tidak menjadi alasan untuk mengabaikan tanggung jawab.◼︎





