Awas, Kecanduan ‘Scrolling’ TikTok Ternyata Berbahaya, Kenali Gejala-gejalanya

Ilustrasi scrolling TikTok. Berbagai studi menyatakan kecanduan scrolling menimbulkan berbagai macam bahaya. (Pexels)
Menggulir atau scrolling video pendek, seperti sajian konten di media sosial TikTok, memang terasa menghibur. Namun, terlalu sering scrolling ternyata menyimpan berbagai macam bahaya.

__________

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kecanduan scrolling TikTok menimbulkan efek buruk pada kesehatan mental, perbandingan sosial yang tidak sehat, gangguan pola tidur, hingga penurunan fokus dan produktivitas.

Sebagaimana dilansir Cyberpsychology, kecanduan video pendek didefinisikan sebagai “penggunaan video pendek yang berlebihan dan tidak rasional hingga memengaruhi kehidupan sehari-hari”.

Bacaan Lainnya

Kecanduan ini dapat memicu efek negatif pada emosi, suasana hati, dan masalah psikis.

Penelitian berjudul The addiction behavior of short-form video app TikTok: The information quality and system quality perspective, yang dimuat Jurnal Frontiers in Psychology, terbit tahun 2022, menyatakan bahwa kecanduan scrolling dapat disebabkan karena video yang disajikan berdasarkan algortima—atau sering disebut “for your page” (FYP)—yang sudah dipersonalisasi berdasarkan minat dan kesukaan pengguna

Kualitas video yang bagus dan menghibur dalam FYP menambah kesenangan pengguna untuk menonton lebih banyak video. Walhasil, pengguna pun ingin terus melihat video-video lain yang disukainya, hingga tak sadar mengalami kecanduan.

Ilustrasi kebiasaan scrolling medsos. (Canva)
Menurunkan Kemampuan Fokus pada Otak

Menurut penelitian berjudul Accelerating Dynamics of Collective Attention, yang dimuat Jurnal Nature Communications pada tahun 2019, scroll medsos berlebihan dapat menurunkan fokus dan rentang perhatian seseorang.

Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa menonton video pendek bisa mengakibatkan defisit pada kemampuan seseorang untuk menerima atau mengonsumsi konten dengan durasi lebih panjang.

Hal tersebut dikarenakan durasi konten yang lebih panjang membutuhkan fokus yang lebih lama.

Orang-orang yang sebelumnya terbiasa melihat video apa pun dengan durasi 10–30 menit akan merasa bosan, serta kehilangan minat dan fokus dalam menonton tayangan tersebut. Apabila digunakan secara berlebihan, media sosial atau platform konten apa pun bisa memberikan efek yang sama.

Hal tersebut disebabkan karena pemrosesan memori manusia menjadi terbatas. Ketika muncul distraksi berupa potongan short video, kerja otak untuk memproses sebuah memori menjadi terbagi, hingga menyebabkan daya ingat tidak optimal.

Mengganggu Kualitas Tidur

Kecanduan scrolling TikTok juga mengganggu kualitas tidur karena konten yang merangsang, paparan cahaya biru, dan fenomena Fear of Missing Out (FOMO) atau takut ketinggalan informasi.

Konten yang terus-menerus diklik dapat meningkatkan dopamin dan kortisol, yang membuat otak sulit rileks, sementara cahaya biru dari ponsel menekan produksi melatonin hingga 55 persen, menunda waktu tidur hingga 1,5 jam.

Di sisi lain, tren FOMO mendorong pengguna untuk terus menggulir melewati waktu tidur, sehingga ritme tidur alami terganggu, berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan secara keseluruhan.

Ilustrasi seseorang sulit tidur. (Canva)
Meningkatkan Kecemasan

Studi juga menunjukkan bahwa penggunaan TikTok berlebihan berkaitan dengan meningkatnya kecemasan dan depresi, terutama pada remaja dan pemuda.

Kebiasaan scrolling tanpa henti juga dapat menimbulkan perasaan kesepian dan isolasi sosial saat pengguna membandingkan diri dengan orang lain.

Ilustrasi seseorang mengalami kecemasan. (Canva)
Penurunan Produktivitas

Kecanduan scrolling TikTok juga menyebabkan penurunan produktivitas dan konsentrasi. Penggunaan yang berlebihan dapat mengganggu waktu yang seharusnya digunakan untuk pekerjaan atau belajar, karena pengguna terus terdistraksi oleh dorongan untuk membuka aplikasi.

Seiring waktu, hal tersebut merusak kemampuan untuk berkonsentrasi dan memengaruhi manajemen waktu.

Penurunan produktivitas ini juga berdampak negatif pada performa kerja atau akademik. Tak hanya itu biasanya membuat panjang daftar tugas yang tertunda, yang pada akhirnya dapat meningkatkan stres.

Ilustrasi penurunan produktivitas. (Canva)
Perasaan Terisolasi

Kecanduan scrolling TikTok juga sering menyebabkan pengguna menghabiskan lebih banyak waktu onlinedaripada berinteraksi langsung dengan keluarga atau teman.

Kondisi ini bisa mengakibatkan penurunan keterampilan komunikasi dan empati, karena waktu yang dihabiskan untuk berinteraksi sosial di dunia nyata semakin sedikit.

Akibatnya, hubungan dengan orang di sekitar bisa terganggu, dan pengguna merasa semakin terisolasi.

Ilustrasi seseorang merasa terisolasi. (Canva)

Pos terkait