Apa Iya PKB Saat Ini Perlu Regenerasi? 

Ilustrasi regenerasi dalam organisasi. SF

Pengurus NU Merindukan PKB

Pada kesempatan yang sama, ternyata Gus Ipul tidak hanya menyinggung soal regenerasi, tapi ada uangkapan yang mengandung semacam kerinduan dari PBNU kepada PKB. Gus Ipul mengaku bahwa dirinya mau menegaskan kembali bahwa PKB didirikan oleh NU, dan karenanya pimpinan PKB harus meminta nasihat Rais ‘Aam dan Ketua Umum PBNU.

Bacaan Lainnya

Bukankah Pilpres baru rampung beberapa bulan yang lalu? Dan masih lekat dalam ingatan, semua pemimpin dan kader PKB sebelum hari H Pemilu hingga hari ini mengatakan bahwa PKB adalah partainya orang NU dan didirikan oleh kiai-kiai NU. Namun, Ketua Umum NU waktu itu dengan tegas mau menjauhkan warga NU dari PKB, dan memobilisasi massa NU ke partai lain.

Setelah pagelaran Pilpres usai, tiba-tiba Gus Ipul mau mengakui NU mendirikan PKB. Perlu diketahui, menurut pandangan penulis, PKB ibarat seorang anak yang dicampakkan oleh orangtuanya sendiri. Namun, sebagai seorang anak, PKB tidak pernah mencampakkan NU.

Kepengurusan PBNU hari ini seperti Azar, ayah kandung Nabi Ibrahim. Walaupun dicampakkan oleh ayahnya sendiri, Nabi Ibrahim tidak pernah membenci ayahnya.

Siapa pun yang belum pikun pasti masih ingat, betapa PKB ‘dicampakkan’ oleh para pengurus NU sebelum Pilpres. Namun, para pengurus ini seperti penjual ketengan, menjajakan suara NU ke partai-partai lain calon pembeli.

Namun, PKB sebagai anak yang tidak durhaka kepada orangtuanya, walaupun ia dizalimi, Tuhan langsung memberikan pahalanya. Perolehan suara uara PKB di parlemen meningkat drastis.

Sementara di sisi lain, mantan ‘pembeli’ suara NU terjerat oleh masalah hukum, melanggar etika, melemahkan KPU, hingga MK. Rakyat se-Indonesia yang masih punya hati nurani betul-betul miris melihat perilaku politik orang-orang yang didukung PBNU di Pilpres kemarin. Dalam hemat penulis, betapa remuknya citra PBNU hari ini.

Ditambah lagi, para intelektual NU seperti “mengobral” kebenaran. Korupsi, suap, politik transaksional adalah hal-hal haram yang orang awam pun tahu dampak buruknya. Namun, elite intelektual PBNU menciptakan narasi yang “nyundul” langit, tapi ujung-ujungnya ujungnya mau membenarkan politik uang dan transaksional. Menurut hemat penulis, sungguh naif bila “komplotan” semacam itu dijadikan panutan.

Maka dari itu, satu-satunya ungkapan yang layak disampaikan, apabila ada orang-orang PBNU berkomentar miring tentang PKB, “Biarkan para anjing itu menggonggong, kafilah kita akan tetap berlalu.”

Satu ungkapan lain datang dari Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, “Tak peduli PKB diakui sebagai anak atau tidak oleh para pengurus NU, yang paling penting adalah kesejahteraan warga Nahdliyyin.”◼︎ IMAM NAWAWI | seorang santri, penerjemah, alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyajarta

Pos terkait