Kepergian Amal Fathullah Zarkasyi menandai berakhirnya satu bab penting dalam sejarah panjang pendidikan Islam modern di Indonesia.
Pimpinan sekaligus pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor, Prof. Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A., wafat pada Sabtu, 3 Januari 2026, pukul 12.14 WIB. Ia menghembuskan napas terakhir saat menjalani perawatan di RSUD dr. Moewardi, Solo, Jawa Tengah.
Kabar duka itu disampaikan secara resmi melalui akun media sosial Pondok Modern Darussalam Gontor. Dalam pernyataannya, pihak pondok menyebutkan bahwa Amal Fathullah wafat pada 14 Rajab 1447 Hijriah. Doa dan harapan mengalir bersama pengumuman tersebut—agar almarhum wafat dalam keadaan husnul khatimah, diampuni dosa-dosanya, dan diterima seluruh amal ibadahnya.
Amal Fathullah bukan sekadar seorang pimpinan lembaga pendidikan. Ia adalah bagian dari denyut nadi intelektual Gontor—sebuah pesantren yang sejak awal berdirinya dikenal memadukan disiplin keilmuan, kemandirian, dan pandangan dunia Islam yang terbuka. Di tangan generasi penerus seperti dirinya, warisan itu tidak dibekukan sebagai tradisi, melainkan terus diperbarui.
Lahir pada 4 November 1947, Amal Fathullah merupakan putra keempat dari Imam Zarkasyi, salah satu Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor bersama Ahmad Sahal dan Zainuddin Fananie. Garis sejarah itu menempatkannya di simpul penting antara tradisi pendirian dan tantangan zaman yang terus berubah.
Di dunia akademik, Amal Fathullah dikenal sebagai cendekiawan Muslim dengan kepakaran di bidang akidah dan filsafat Islam. Ilmu kalam, perbandingan agama, serta teologi Islam menjadi wilayah kajian yang digelutinya selama puluhan tahun. Pandangan-pandangannya kerap menekankan pentingnya nalar kritis, dialog antariman, dan kedalaman spiritual sebagai fondasi pendidikan Islam modern.
Selain mengabdi di lingkungan pesantren, ia juga berkiprah di perguruan tinggi. Amal Fathullah pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Darussalam Gontor (UNIDA) Gontor pada periode 2014–2020. Dalam masa kepemimpinannya, UNIDA Gontor diarahkan untuk memperkuat identitas sebagai universitas berbasis pesantren, sekaligus mampu berbicara di tingkat nasional dan internasional.
Selepas masa jabatannya sebagai rektor, Amal Fathullah mengemban amanah sebagai pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor hingga akhir hayatnya. Peran itu dijalaninya dengan pendekatan yang tenang dan reflektif—menjaga kesinambungan nilai, sembari membuka ruang adaptasi bagi generasi santri yang hidup di era global.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga besar Gontor, tetapi juga bagi jejaring luas alumni dan umat Islam di Indonesia. Ribuan santri yang pernah merasakan didikannya kini mengenang sosok guru yang memadukan ketegasan prinsip dengan keluasan pandangan.
Gontor, seperti pesantren besar lainnya, dibangun bukan hanya oleh bangunan dan kurikulum, tetapi oleh figur-figur yang menanamkan arah. Amal Fathullah Zarkasyi adalah salah satunya—seorang penjaga kesinambungan, yang memastikan pendidikan Islam tetap berpijak pada nilai, tanpa kehilangan keberanian untuk menatap masa depan.***





