Rupiah melemah mendekati Rp18.200 per dolar AS. Bank Indonesia menyebut ketegangan Timur Tengah dan kekhawatiran MSCI sebagai penekan utama, sementara investor asing terus menjual.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus melemah dan hampir menyentuh level Rp18.200. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 0,15 persen ke level Rp18.184 per dolar AS pada Rabu (28/10).
Kurs JISDOR Bank Indonesia mencatat Rp18.183, melemah 0,24 persen dari posisi Selasa di Rp18.139. Secara bulanan, rupiah telah terdepresiasi 1,15 persen.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, mengungkapkan tiga faktor utama yang menekan rupiah.
Pertama, faktor eksternal, yaitu ketegangan di Timur Tengah menjaga harga minyak mentah di atas USD115 per barel. Hal ini meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat dan memicu sentimen risk-off yang menguatkan dolar AS.
Kedua, faktor domestik: kekhawatiran terhadap potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI masih membebani aliran modal masuk. Ketiga, faktor musiman: meningkatnya kebutuhan valuta asing menjelang akhir bulan.
“Ketegangan Timur Tengah yang menjaga harga minyak di atas USD115 per barel, ekspektasi kenaikan suku bunga AS, dan sentimen risk-off menjadi penekan utama,” ujar Erwin.
“Selain itu, kekhawatiran terhadap MSCI masih menjadi sentimen domestik yang menahan aliran modal,” tambahnya dalam keterangan resmi.
Tekanan Meluas ke Pasar Saham
Pelemahan rupiah yang mendekati Rp18.200 turut memperburuk sentimen pasar saham. Analis Mirae Asset menilai investor asing menanggung kerugian kurs saat mengonversi investasi kembali ke dolar.
Kondisi ini berpotensi mendorong pengurangan eksposur lebih lanjut. Hal itu tercermin dari IHSG yang dibuka melemah 17,06 poin (0,32 persen) ke level 5.249,07 pada Rabu pagi.
Indeks itu melanjutkan koreksi tajam sehari sebelumnya yang anjlok 1,99 persen ke 5.266,13.
Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia juga terlihat dari arus keluar modal asing. Sepanjang tahun 2026 hingga 26 Oktober, penjualan bersih asing di pasar saham mencapai Rp96,72 triliun.
Sejak pengumuman konsultasi MSCI pada 15 Oktober, investor asing mencatat penjualan bersih sekitar Rp11,9 triliun. Tekanan meluas ke pasar Surat Berharga Negara dengan penjualan bersih asing Rp1,5 triliun pada 16 Oktober.
Sementara itu, yield SBN 10 tahun naik ke level 7,52 persen.
Langkah Stabilisasi Bank Indonesia
Bank Indonesia menyatakan akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah. Namun, kombinasi tekanan eksternal dan domestik dinilai masih akan membayangi pergerakan nilai tukar dalam jangka pendek.***





