Menlu Singapura menemui Arrmanatha Nasir tiga hari setelah RI memangkas pasokan gas. Pernyataan bersama kedua menlu masih ditunggu.
Jabat tangan di Gedung Pancasila, Jakarta, Selasa sore, 27 Oktober 2026, membuka babak baru hubungan Indonesia-Singapura yang sedang diuji gas dan kabut asap.
Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir menyambut Menlu Singapura Vivian Balakrishnan sekitar pukul 15.37 WIB. Keduanya lalu menggelar pembicaraan empat mata secara tertutup.
Ini pertemuan pertama keduanya sejak Arrmanatha menggantikan Sugiono pada akhir September. Vivian menjadi menlu asing kedua yang ditemuinya, setelah Menlu Australia Penny Wong.
Kementerian Luar Negeri menjadwalkan pernyataan pers bersama seusai pertemuan. Hingga naskah ini ditulis, isi pembicaraan belum diumumkan.
Pihak Singapura sendiri sempat tak mengonfirmasi kunjungan itu secara resmi, sebagaimana dilaporkan sejumlah media asing.
Delapan Persen yang Bergema
Kunjungan Vivian berlangsung tiga hari setelah Indonesia memangkas ekspor gas pipa ke Singapura mulai Sabtu, 24 Oktober. Pemangkasan menyasar pasokan dari Natuna dan Sumatera.
Menurut Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, total ekspor gas pipa ke Singapura mencapai 409,55 BBTUD. Yang dipangkas 31 BBTUD, atau sekitar 8 persen.
Alasan resminya adalah pemeliharaan fasilitas dan kebutuhan gas domestik yang terus meningkat. Bahlil menegaskan volume itu masih dalam batas minimum kontrak.
“Pengurangan 31 bbtud itu masih dalam batas kontrak minimum. Jadi, kami tidak melakukan pelanggaran aturan maupun kontrak,” kata Bahlil, Senin, 26 Oktober.
Namun, dua hari sebelum pemangkasan, Bahlil sempat mengancam akan mengevaluasi kontrak ekspor dengan negara yang dinilainya tidak kooperatif dan tidak menghargai Indonesia.
Pernyataan itu membuat pemangkasan gas sulit dibaca sebagai urusan teknis semata, meski pemerintah tak pernah menyebut negara yang dimaksud.
Dari seberang, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong meminta semua pihak menghormati komitmen kontrak komersial. Importir gas Singapura, katanya, siap melindungi haknya.
Menteri Energi dan Industri Singapura Tan See Leng menambahkan, importir gas akan memeriksa ada-tidaknya pelanggaran kontrak dan menempuh jalur komersial bila diperlukan.
Secara volume, dampaknya kecil. Otoritas energi Singapura menghitung pemangkasan itu kurang dari 2 persen kebutuhan gas harian mereka yang melampaui 1.000 BBTUD.
Tapi taruhannya besar. Sekitar 95 persen listrik Singapura dihasilkan dari gas alam, sementara kontrak gas pipa Indonesia ke sana baru berakhir bertahap pada 2028.
Asap Terparah dalam 11 Tahun
Persoalan kedua menyeberang lewat udara. Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia tahun ini disebut terparah dalam 11 tahun dan menyebarkan asap hingga Singapura dan Malaysia.
Pada 16 Oktober, indeks standar polutan (PSI) 24 jam di wilayah tengah Singapura menyentuh angka 229, tertinggi sepanjang 2026.
Singapura lalu mengirim Preventive Measure Notice kepada 10 perusahaan di Indonesia terkait kebakaran di Sumatera dan Kalimantan, pada 16 dan 19 Oktober.
Pada 23 Oktober, giliran 10 perusahaan sawit dan kehutanan yang terdaftar di Singapura menerima pemberitahuan berdasarkan Transboundary Haze Pollution Act.
Itu langkah pertama semacamnya sejak undang-undang tersebut berlaku. Seluruh perusahaan telah menanggapi, dan sebagian besar menyatakan siap bekerja sama.
Di dalam negeri, Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan menepis kekhawatiran konflik. Ia menyerahkan evaluasi kebijakan gas kepada Bahlil.
“Sebenarnya kita ngapain berkelahi sama Singapura, kan enggak ada juga,” kata Luhut di Jakarta, Selasa.
Kabut asap juga bakal dibawa ke meja yang lebih besar. Isu itu masuk agenda KTT ASEAN ke-49 di Manila pada November mendatang.
Untuk sementara, jabat tangan di Gedung Pancasila memastikan saluran diplomasi tetap terbuka. Isi kesepakatannya masih menunggu pernyataan bersama kedua menlu. ***





