Akses ke Penanjakan dibatasi hingga Lemah Pasar sejak Sabtu malam. Empat orang meninggal dalam pemadaman, sementara dua korban luka berat dirawat di Surabaya.
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) membatasi kunjungan ke Penanjakan karena kebakaran di kawasan tersebut belum sepenuhnya terkendali. Pembatasan berlaku sejak Sabtu, 17 Oktober 2026, pukul 21.30 WIB hingga waktu yang belum ditentukan.
Wisatawan dan warga hanya diperbolehkan beraktivitas sampai Lemah Pasar. Ketentuan itu menjadi perkembangan terbaru hingga Minggu pagi, 18 Oktober, setelah kebakaran di Pusung Lingker menewaskan empat orang pada Kamis lalu.
“Aktivitas kunjungan wisata dan aktivitas warga di area Penanjakan dan sekitarnya hanya diperbolehkan sampai dengan Lemah Pasar,” kata Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha dalam pengumumannya.
Di tengah penanganan kebakaran, kepolisian masih menyelidiki penyebab dan rangkaian kejadian yang membuat petugas serta relawan terjebak api di Pusung Lingker, Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
Kabid Humas Polda Jawa Timur Komisaris Besar Jules Abraham Abast mengatakan polisi telah meminta keterangan sejumlah saksi. Penyebab kebakaran dan faktor yang mengakibatkan jatuhnya korban masih dalam penyelidikan.
Dua Petugas dan Dua Karyawan Hotel Meninggal
Empat korban meninggal terdiri atas dua petugas TNBTS dan dua karyawan hotel yang membantu pemadaman.
Korban dari TNBTS ialah Sukaris dan Hendra Rony Wagiyanata. Dua korban lainnya adalah Wisnu Yuda Pratama dan Sefriel Ardiansyah, karyawan PT Mitra Indo Permai.
Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief, tiga orang ditemukan meninggal di lokasi. Hendra kemudian meninggal di RSUD Tongas pada Kamis, 15 Oktober, pukul 18.59 WIB.
Dua korban selamat, Munawi dan Suraji, mengalami luka bakar berat dan dirujuk ke RSUD Dr Soetomo, Surabaya.
“Dua personel mengalami luka bakar berat, yakni Munawi dan Suraji,” kata Rudijanta dalam keterangan resmi, Jumat, 16 Oktober. Ia menyatakan pengelola taman nasional terus berkoordinasi untuk penanganan keduanya.
Pihak RSUD Dr Soetomo sebelumnya mengonfirmasi kedua pasien tiba pada Kamis malam. Dalam keterangan Jumat, seorang pasien telah menjalani operasi, sementara pasien lainnya masih diobservasi sebelum tindakan operasi.
Api Kembali Muncul Setelah Sempat Padam
Menurut keterangan TNBTS, kebakaran awal dilaporkan pada Selasa, 13 Oktober, di ladang warga sekitar Blok Pusung Dawa yang berbatasan dengan kawasan taman nasional. Api kemudian merambat ke kawasan konservasi.
Pemadaman dilakukan secara manual karena lokasi jauh dari sumber air dan sulit dijangkau mesin penyemprot. Api sempat dipadamkan pada Rabu, tetapi asap tebal kembali terlihat pada Kamis pagi.
Tim gabungan kembali menuju lokasi dan melakukan penyekatan api. Menjelang siang, angin kencang mempercepat penjalaran kebakaran hingga sejumlah personel terjebak.
BPBD mencatat permintaan pertolongan muncul sekitar pukul 13.30 WIB. Tim penyelamat kemudian menemukan enam korban, tiga di antaranya telah meninggal. Petugas Inafis Polres Probolinggo melakukan pemeriksaan lokasi pada sore harinya.
Pengelola TNBTS meminta wisatawan, pelaku jasa wisata, dan masyarakat mematuhi pembatasan aktivitas di Penanjakan serta menghindari kegiatan yang dapat memicu kebakaran.***





