Pergantian Kapolri Versi IndoStrategi: Sinyal Bersih-bersih Geng Solo

Direktur Riset IndoStrategi Research Intelligence, Dr. Ali Noer Zaman. (Istimewa)

Pengamat menilai pergantian pucuk pimpinan Trunojoyo oleh Presiden Prabowo Subianto menjadi langkah awal pembersihan faksi lama serta upaya konsolidasi menuju 2029.

Direktur Riset IndoStrategi Research Intelligence Ali Noer Zaman menilai penunjukan Kapolri baru merupakan bagian dari perubahan konfigurasi kekuasaan. Ia menyebut pergantian kepemimpinan kepolisian itu sebagai indikasi pembersihan “Geng Solo” secara perlahan.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto resmi menunjuk Komisaris Jenderal Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri. Ia menggantikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Pergantian ini bertepatan dengan perombakan atau reshuffle kabinet yang menyentuh sejumlah menteri strategis.

Bersih-bersih Geng Solo

Ihwal dinamika di tubuh kepolisian tersebut, Ali menyoroti adanya pengurangan kewenangan Listyo Sigit secara signifikan. Menurut dia, masuknya Suyudi yang memiliki kedekatan dengan tokoh politik Dasco mempertegas pergeseran faksi di pemerintahan.

Bacaan Lainnya

“Pergantian Kapolri merupakan indikasi dimulainya secara perlahan bersih-bersih geng Solo,” kata Ali melalui keterangan tertulis yang diterima Samudrafakta. pada Jumat (2/10/2026).

Fokus Politik Dalam Negeri

Selain perombakan di kepolisian, Prabowo turut menunjuk Arrmanatha Christiawan Nasir sebagai Menteri Luar Negeri. Posisi ini menunjukkan adanya pembagian fokus dalam strategi jalannya pemerintahan ke depan.

Kementerian Luar Negeri diproyeksikan mendapat porsi wewenang lebih besar dalam diplomasi internasional. Ali memprediksi pembagian tugas ini akan membuat presiden lebih leluasa mengurus masalah domestik.

“Prabowo tentunya akan mempersiapkan diri untuk pertarungan politik di pilpres 2029,” ujar Ali. Menurutnya, fokus urusan dalam negeri ini tidak lepas dari strategi sang presiden dalam mengamankan posisi ke depan.

Relasi Erat dengan Golkar

Selain diplomasi, perombakan kabinet juga menempatkan Bahlil Lahadalia sebagai Menteri Koordinator Hilirisasi dan Energi. Promosi jabatan menteri koordinator ini dinilai memiliki muatan politis tersendiri bagi stabilitas pemerintahan.

Penguatan peran Bahlil dipandang sebagai langkah konsolidasi kekuasaan secara menyeluruh. IndoStrategi menilai dinamika kepolisian dan kabinet ini harus dibaca sebagai satu kesatuan manuver politik pemerintahan baru.

“Kejutan dalam reshuffle ini adalah pemberian kursi menko ke Bahlil, menunjukkan semakin dekatnya relasi Golkar dan Prabowo,” ujar Ali. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan