Tiru Jepang, BGN Kaji Dapur Terpusat Makan Bergizi Gratis

Pertemuan BGN dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) Indonesia. (Dok. BGN)

Badan Gizi Nasional mempelajari skema dapur terpusat dari Jepang guna menyempurnakan tata kelola program Makan Bergizi Gratis di Indonesia.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengatakan pihaknya tengah mempelajari model penyediaan makan gratis bagi siswa di Jepang. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Tanah Air.

“Intinya adalah kami ingin belajar dari negara yang salah satu yang terbaik dalam program makan gratisnya,” kata Sudaryono melalui keterangan resmi, Kamis (24/9/2026).

Ihwal skema tersebut, Sudaryono menyebut Jepang tidak selalu memasak hidangan secara langsung di sekolah. Sebagian wilayah mengadopsi sistem central kitchen atau dapur terpusat untuk memproduksi logistik makanan.

Bacaan Lainnya

Makanan yang telah dibuat di dapur terpusat itu kemudian dibawa dan didistribusikan ke masing-masing sekolah. “Siapa tahu kita bisa meniru dengan langkah-langkah yang barangkali perlu disesuaikan,” ujarnya.

Kerja Sama dengan JICA

Sebelumnya, BGN telah menggelar audiensi bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) Indonesia. Kerja sama kedua pihak untuk evaluasi dan pembelajaran program makan bagi siswa ini sudah terbangun sejak 2024.

Selain cara distribusi, BGN turut mempelajari tata kelola dan keterlibatan ekosistem program tersebut secara utuh. Hal ini mencakup fungsi teknis pihak sekolah, guru, siswa, hingga orang tua dalam menjaga keberlanjutan gizi.

Terbuka pada Inovasi Negara Lain

Selain itu, Sudaryono menegaskan BGN tidak menutup mata dari pengalaman negara lain di luar Jepang. Pihaknya senantiasa terbuka meninjau praktik terbaik dari India hingga Brasil yang memiliki program serupa.

Pemerintah akan mencari model paling efektif yang dapat diintegrasikan dengan ekosistem lokal yang sudah berjalan saat ini.

“Yang kita cari adalah model seperti apa yang kemudian terbaik yang bisa kita lakukan dengan yang sekarang sudah ada. Tinggal kita adopsi sedikit dan kita sesuaikan,” ucap Sudaryono.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan