Kebakaran Desa Sade, Jejak Turun Temurun Suku Sasak Hangus

Desa Sade
Desa Adat Sade. - Wikipedia

Kebakaran menghanguskan 89 bangunan di Desa Sade dan berdampak pada 320 warga. Kampung adat ini menyimpan sejarah, arsitektur, dan tradisi Suku Sasak.

Desa Sade di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), sedang menjadi perhatian setelah kebakaran hebat melanda kawasan permukiman adat Suku Sasak tersebut pada Sabtu, 22 Agustus 2026.

Peristiwa tersebut menyoroti keberadaan Sade yang selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya di Pulau Lombok. Di balik kabar kebakaran, kawasan ini memiliki sejarah dan tradisi yang telah dipertahankan masyarakat secara turun-temurun.

Desa Sade bukan hanya kawasan dengan deretan rumah tradisional. Permukiman tersebut juga menjadi tempat masyarakat Sasak menjalankan kehidupan sehari-hari sekaligus menjaga berbagai warisan budaya leluhur.

Bacaan Lainnya

Keberadaan kampung adat ini membuat wisatawan dapat melihat secara langsung sejumlah aspek kehidupan masyarakat Sasak. Mulai dari bentuk rumah, kerajinan tangan, tradisi keluarga, hingga kesenian yang masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.

Melansir laman Bloomberg Technoz, Selasa (25/8/2026), Desa Sade merupakan salah satu permukiman tradisional Suku Sasak yang berada di Lombok. Kawasan tersebut telah dikenal sebagai tujuan wisata budaya selama puluhan tahun dan menjadi salah satu tempat yang banyak dikunjungi wisatawan.

Masyarakat Sade masih mempertahankan sejumlah kebiasaan yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Tradisi tersebut menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat Sasak.

Perkembangan pariwisata membuat nama Desa Sade semakin dikenal. Wisatawan dari berbagai wilayah Indonesia hingga mancanegara datang untuk melihat kehidupan masyarakat dan mengenal lebih dekat kebudayaan lokal.

Meski menjadi destinasi wisata, Sade tetap merupakan permukiman tempat masyarakat menjalankan kehidupan sehari-hari. Aktivitas warga tidak hanya berkaitan dengan wisata, tetapi juga mencakup pekerjaan, keluarga, tradisi, dan kegiatan sosial.

Suku Sasak sendiri merupakan kelompok masyarakat yang dikenal sebagai penduduk asli Pulau Lombok. Di Desa Sade, berbagai unsur kebudayaan Sasak masih dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat.

Salah satu budaya yang cukup dikenal adalah tradisi menenun. Keterampilan tersebut diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan menjadi bagian dari kerajinan yang dikenalkan kepada wisatawan.

Tradisi menenun juga menunjukkan bagaimana pengetahuan lokal tetap dipertahankan di tengah perkembangan zaman. Kerajinan tersebut bukan sekadar produk wisata, tetapi menjadi bagian dari keterampilan dan budaya masyarakat setempat.

Selain menenun, masyarakat Sasak memiliki berbagai tradisi yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan perkawinan. Salah satu tradisi yang dikenal luas adalah merariq atau tradisi perkawinan masyarakat Sasak.

Berbagai adat tersebut membuat Desa Sade memiliki karakter tersendiri dibandingkan destinasi wisata lain di Lombok. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat bangunan, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai kehidupan masyarakat Sasak.

Rumah tradisional menjadi salah satu daya tarik utama Desa Sade. Bangunan di kawasan tersebut memiliki bentuk dan penggunaan material yang berbeda dari rumah modern pada umumnya.

Material alami seperti bambu, kayu, dan alang-alang digunakan dalam pembangunan rumah tradisional. Bagian atap umumnya menggunakan alang-alang, sementara bagian dinding dan struktur tertentu dibuat dari material lainnya.

Arsitektur tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal. Bentuk rumah tradisional juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Sasak yang terus dipertahankan di tengah perubahan zaman.

Bagi wisatawan, keberadaan rumah-rumah tersebut memberikan kesempatan untuk melihat secara langsung bentuk arsitektur tradisional masyarakat Lombok. Hal ini menjadi salah satu alasan Sade dikenal sebagai destinasi wisata budaya.

Keunikan tersebut membuat Desa Sade memiliki nilai yang lebih luas dibandingkan sekadar tempat kunjungan wisata. Kawasan ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk mempertahankan pengetahuan dan kebudayaan yang diwariskan leluhur.

Popularitas Desa Sade sebagai destinasi wisata berkembang seiring meningkatnya ketertarikan terhadap budaya lokal. Wisatawan dapat melihat rumah tradisional sekaligus mengenal kerajinan dan kehidupan masyarakat Suku Sasak.

Kehadiran wisatawan turut membuat kebudayaan Sade semakin dikenal oleh masyarakat luas. Namun, perkembangan pariwisata juga perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga identitas dan kehidupan masyarakat setempat.

Pelestarian Desa Sade tidak hanya berarti mempertahankan bentuk bangunan tradisional. Pengetahuan masyarakat, bahasa, kesenian, kerajinan, serta adat istiadat juga menjadi bagian penting yang perlu dijaga.

Karena itu, Sade memiliki posisi penting dalam memperkenalkan kebudayaan Lombok kepada masyarakat dari luar daerah. Keberadaan kampung adat tersebut menjadi penghubung antara kehidupan tradisional dan perkembangan pariwisata modern.

Kebakaran Melanda Kampung Adat Sade
Kebakaran yang terjadi pada Sabtu, 22 Agustus 2026 membawa dampak besar bagi masyarakat Desa Sade. Peristiwa tersebut melanda kawasan rumah adat di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, NTB.

Berdasarkan keterangan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, sebanyak 320 warga yang berasal dari 120 kepala keluarga terdampak akibat kebakaran tersebut.

Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri mengatakan jumlah warga terdampak mencapai ratusan jiwa. Pemerintah daerah kemudian memprioritaskan proses pemulihan serta pemenuhan kebutuhan masyarakat yang terkena dampak.

“Korban yang terdampak mencapai 320 jiwa atau 120 kepala keluarga,” kata Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri, dikutip Selasa (25/8/2026).

Dampak kebakaran tidak hanya mengenai rumah warga. Sejumlah fasilitas yang berada di kawasan tersebut juga ikut terdampak dalam kejadian tersebut.

Fasilitas yang dilaporkan terdampak antara lain masjid, museum, lapak UMKM atau usaha mikro, kecil, dan menengah, serta sejumlah fasilitas umum lainnya.

Secara keseluruhan, terdapat 89 bangunan yang dilaporkan terbakar dalam peristiwa tersebut. Jumlah tersebut menunjukkan besarnya dampak kebakaran terhadap kawasan permukiman adat yang selama ini menjadi salah satu tujuan wisata budaya di Lombok.

Kondisi tersebut membuat proses pemulihan menjadi perhatian penting. Selain memastikan kebutuhan warga terdampak terpenuhi, pemulihan kawasan juga berkaitan dengan keberlangsungan kehidupan masyarakat adat dan aktivitas ekonomi yang selama ini berjalan di Desa Sade.

Bagi masyarakat setempat, dampak kebakaran tidak hanya berkaitan dengan kehilangan tempat tinggal atau fasilitas. Kerusakan kawasan juga menyentuh ruang yang memiliki nilai sejarah dan budaya bagi masyarakat Suku Sasak.

Desa Sade selama ini dikenal karena kemampuan masyarakatnya dalam mempertahankan tradisi di tengah perkembangan pariwisata. Karena itu, upaya pemulihan nantinya tidak hanya menjadi persoalan pembangunan kembali fasilitas, tetapi juga berkaitan dengan keberlanjutan identitas budaya kawasan.

Kebakaran tersebut menjadi pengingat mengenai pentingnya menjaga kawasan adat sekaligus memastikan keberlangsungan kehidupan masyarakat yang tinggal di dalamnya. Desa Sade memiliki nilai budaya yang terbentuk melalui tradisi dan pengetahuan yang diwariskan selama beberapa generasi.

Pelestarian Sade pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan mempertahankan bangunan tradisional yang menjadi daya tarik wisata. Lebih dari itu, pelestarian juga berarti menjaga masyarakat, tradisi, pengetahuan, serta kehidupan budaya Suku Sasak yang menjadi identitas utama kawasan tersebut. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan