Jumlah warga yang mengungsi akibat gempa Nusa Tenggara Timur melonjak menjadi 150.576 orang. Pada saat bersamaan, BMKG mencatat gempa susulan telah mencapai 5.335 kejadian hingga Sabtu sore, dengan 128 di antaranya dirasakan masyarakat.
Jumlah warga yang meninggalkan rumah akibat rangkaian gempa di Nusa Tenggara Timur terus bertambah seiring aktivitas gempa susulan yang belum berhenti.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat 150.576 orang mengungsi hingga Sabtu, 22 Agustus 2026. Jumlah tersebut meningkat dari kisaran 130 ribu orang pada pembaruan sebelumnya.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengaitkan peningkatan tersebut dengan masih tingginya frekuensi gempa susulan.
“Pengungsi juga bertambah dari angka yang kemarin 130-an ribu, sekarang sudah mencapai 150.576 jiwa,” kata Berton dalam konferensi pers daring, Sabtu.
Kabupaten Manggarai mencatat jumlah pengungsi terbesar dengan 41.427 orang. Nagekeo berada di urutan berikutnya dengan 34.256 pengungsi, disusul Manggarai Timur sebanyak 31.372 orang.
Tiga kabupaten tersebut saja menampung lebih dari 107 ribu pengungsi.
Gempa Susulan Bertambah Menjadi 5.335 Kali
Data jumlah gempa susulan juga terus bergerak.
Dalam konferensi pers BNPB, data yang digunakan masih menunjukkan 5.012 gempa susulan. Namun, BMKG kemudian memperbarui angka tersebut menjadi 5.335 kejadian hingga Sabtu, 22 Agustus pukul 17.00 WIB.
Dari 5.335 gempa susulan tersebut, magnitudo terbesar mencapai M6,2 dan terkecil M1,1.
Sebanyak 32 gempa memiliki magnitudo di atas M5,0, sedangkan 128 kejadian dirasakan masyarakat.
Artinya, dalam kurun waktu setelah pembaruan BNPB hingga pukul 17.00 WIB, jumlah gempa susulan bertambah lebih dari 300 kejadian.
Aktivitas gempa masih berlangsung pada Sabtu malam. Data real-time BMKG menunjukkan puluhan gempa kembali tercatat di wilayah Flores dan Laut Flores dengan magnitudo yang bervariasi. Sedikitnya 48 kejadian tercatat sepanjang Sabtu hingga sekitar pukul 20.12 WIB dalam pemantauan yang dihimpun dari sistem BMKG.
Warga Belum Berani Kembali ke Rumah
Tingginya frekuensi gempa susulan membuat sebagian warga masih memilih tinggal di lokasi pengungsian meski rumah mereka tidak seluruhnya mengalami kerusakan berat.
Fenomena tersebut membuat jumlah pengungsi tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah warga yang kehilangan rumah.
Sebagian masyarakat memilih mengungsi karena khawatir bangunan yang sudah terdampak gempa kembali rusak apabila terjadi guncangan kuat.





