PWNU Jatim Tugaskan Gus Kikin Maju Calon Ketum PBNU

KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, cicit Hadratus Syekh KH. Hasyim Asyari, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Ketua PWNU Jawa Timur periode 2024–2029. (Humas Unusida)

Penugasan ini merupakan hasil kesepakatan bulat pengurus wilayah dan cabang se-Jawa Timur. Sosoknya dinilai mapan secara ekonomi dan siap mengembalikan muruah organisasi.


Wakil Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Abdul Matin Djawahir menyatakan organisasinya resmi menugaskan KH Abdul Hakim Mahfudz maju sebagai calon Ketua Umum PBNU. Keputusan ini disepakati bersama 45 pengurus cabang di Surabaya, Selasa, 21 Juli 2026.

“Ini murni PWNU Jatim menugasi KH Abdul Hakim Mahfudz untuk menjadi kandidat ketua umum pada Muktamar ke-35,” kata Abdul Matin di Kantor PWNU Jawa Timur.

Ihwal penunjukan ini, ia menegaskan keputusan tersebut lahir dari musyawarah bersama. Langkah ini bukan merupakan ambisi pribadi dari figur yang akrab disapa Gus Kikin itu. Pihaknya memastikan seluruh cabang berada dalam satu garis komando untuk mengusungnya.

Bacaan Lainnya

Kembalikan Tradisi dan Kemandirian Ekonomi

Selain itu, Abdul Matin membeberkan tiga alasan utama penugasan Gus Kikin menjelang Muktamar ke-35 di Jombang pada Agustus 2026 mendatang. Pertama, ia diharapkan mampu mengembalikan pedoman organisasi pada asas rumusan pendiri NU.

Kedua, Gus Kikin dinilai bisa menciptakan tata kelola jamiah yang sejuk dan mengedepankan persaudaraan. Ketiga, sosoknya matang memimpin pesantren serta entitas bisnis, sehingga diyakini tidak akan mencari keuntungan finansial dari PBNU.

“Bukannya ingin mengambil uang dari NU, tapi bahkan ingin menghidupkan NU secara sosial ekonomi. Beliau ini sudah purna dalam bidang ekonomi,” ujar Abdul Matin.

Kepatuhan pada Organisasi

Sebelumnya, Ketua PWNU Jawa Timur sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz membenarkan bahwa dirinya tidak pernah mendaftarkan diri. Pengusaha minyak dan gas bumi ini menganggap pencalonannya murni sebagai bentuk kepatuhan.

Ia berencana memanfaatkan sisa waktu satu bulan sebelum muktamar untuk mengonsolidasikan gagasan strategis. Fokus utamanya adalah merumuskan program kerja nyata yang berdampak baik bagi masa depan kemandirian warga nahdliyin.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan