Menkes Budi Gunadi Sadikin ajak kreator TikTok promosikan makan sehat berbasis pangan lokal. Data SKI 2023 tunjukkan 96,7% penduduk kurang makan buah-sayur, obesitas naik tajam.
Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjadikan pola makan sehat berbasis pangan lokal sebagai gaya hidup harian. Ajakan ini disampaikan dalam peluncuran inisiatif “Makan Dengan Makna” yang digagas TikTok Indonesia bersama Kementerian Kesehatan dan Foodbank of Indonesia (FOI).
Ruang lingkup kerja sama ini mencakup penyediaan konten edukasi masyarakat hingga pertukaran data yang aman dan bertanggung jawab serta program kesehatan lainnya.
Menkes Budi menegaskan bahwa penyakit tidak menular (PTM) penyebab kematian tertinggi di Indonesia seperti stroke, jantung, kanker, dan gangguan ginjal sangat dipengaruhi oleh akumulasi pola makan yang buruk.
“Banyak orang merasa dirinya sehat hari ini, padahal lima atau sepuluh tahun lagi berisiko terkena stroke atau serangan jantung akibat pola makan yang buruk,” ujar Menkes Budi, dalam keterangan tertulis seperti dikutip Minggu (12/7/2026).
Menkes secara khusus meminta para kreator konten di TikTok untuk membantu mengemas edukasi kesehatan ini dengan gaya anak muda agar menjadi tren yang populer.
“Tolong bantu saya mengedukasi masyarakat dengan gaya anak muda. Buatlah pola makan sehat ini menjadi tren. Edukasikan bahwa minum kopi hitam tanpa gula itu keren, dan makan rebus-rebusan atau salad itu gaya hidup yang trendi,” pinta Menkes Budi.
Urgensi dari gerakan ini diperkuat oleh data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Data menunjukkan sebanyak 96,7 persen penduduk usia 5 tahun ke atas kurang mengonsumsi buah dan sayur. Selain itu, 33,7 persen penduduk gemar mengonsumsi makanan manis dan 47,5 persen gemar mengonsumsi minuman manis. Angka obesitas pada penduduk usia 18 tahun ke atas juga melonjak dari 15,4 persen pada 2013 menjadi 23,4 persen pada 2023.
Sebagai bagian dari kebijakan pengendalian risiko PTM tersebut, Kemenkes gencar mendorong program Nutri-Level. Kebijakan ini dirancang agar masyarakat dapat dengan mudah memahami, membandingkan, serta memilih produk pangan berdasarkan kandungan gula, garam, dan lemaknya (GGL). Fokus dari Nutri-Level ini adalah pada penguatan edukasi konsumen saat berbelanja, bukan berupa pelarangan produk di pasar.





