Waspada Fatty Liver, Penyakit yang Sering Datang Tanpa Gejala dan Bisa Berujung Sirosis

Fatty Liver
Ilustrasi fatty Liver. - Health Harvard

Penyakit perlemakan hati atau fatty liver menjadi salah satu gangguan kesehatan yang perlu diwaspadai karena sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat berkembang menjadi kerusakan hati yang lebih serius, seperti sirosis hingga kanker hati.

Melansir informasi kesehatan dari Halodoc, secara normal hati memang mengandung sedikit lemak. Namun, apabila jumlah lemak telah mencapai lebih dari 5 hingga 10 persen dari total berat organ hati, maka kondisi tersebut sudah dikategorikan sebagai perlemakan hati.

Apa Itu Fatty Liver?

Hati merupakan organ vital yang memiliki berbagai fungsi penting, mulai dari menyaring racun dalam tubuh, memproduksi empedu untuk membantu proses pencernaan, hingga mengatur metabolisme energi.

Ketika lemak menumpuk secara berlebihan di dalam hati, fungsi-fungsi tersebut dapat terganggu dan memicu peradangan. Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko menyebabkan kerusakan permanen pada organ hati.

Bacaan Lainnya

Secara umum, fatty liver terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu:

  1. Non-Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD) atau perlemakan hati non-alkoholik.
  2. Alcoholic Fatty Liver Disease (AFLD) atau perlemakan hati yang dipicu konsumsi alkohol.
Faktor Risiko Fatty Liver

Sejumlah kondisi kesehatan dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami perlemakan hati. Beberapa faktor risiko utama antara lain:

  • Obesitas atau kelebihan berat badan.
  • Diabetes tipe 2.
  • Kolesterol dan trigliserida tinggi.
  • Sindrom metabolik.
  • Penurunan berat badan secara drastis dalam waktu singkat.

Para ahli menyebut perubahan metabolisme akibat faktor-faktor tersebut dapat memicu penumpukan lemak di organ hati.

Gejala Fatty Liver yang Perlu Diwaspadai

Pada sebagian besar kasus, penderita fatty liver tidak mengalami gejala yang khas. Karena itu, penyakit ini kerap baru diketahui setelah menjalani pemeriksaan kesehatan.

Namun, beberapa gejala yang dapat muncul meliputi:

  • Mudah lelah dan tubuh terasa lemas.
  • Rasa tidak nyaman atau nyeri tumpul di perut bagian kanan atas.
  • Pembengkakan pada perut apabila kondisi sudah berkembang menjadi lebih berat.

Jika perlemakan hati terus berlanjut tanpa penanganan, penyakit ini dapat berkembang menjadi sirosis atau bahkan kanker hati.

Penelitian Mengenai Silymarin

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah World Journal of Gastroenterology pada 2017 melaporkan bahwa penggunaan ekstrak Silymarin dapat membantu menurunkan kadar enzim hati, seperti SGOT dan SGPT, pada pasien dengan perlemakan hati non-alkoholik.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan