Alissa Wahid mengungkap puluhan pengasuh pesantren menjadi korban penipuan berkedok dapur MBG. Sindikat mengatasnamakan “Dapur Santri Nusantara” menjanjikan kepemilikan SPPG, namun tak kunjung terwujud.
Puluhan kiai pengasuh pesantren menjadi korban penipuan berkedok dapur program Makan Bergizi Gratis. Pimpinan Sidang Komisi Program Munas-Konbes NU Alissa Wahid mengungkap modus itu saat memimpin rapat di Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri, Ahad (21/6/2026).
“Di Ansor, ada puluhan kiai yang datang ke PBNU dan GP Ansor. Mereka mengadu telah membayar masing-masing ratusan juta rupiah kepada pihak Dapur Santri Nusantara,” ungkap Alissa di hadapan peserta sidang.
Para korban dijanjikan akan mendapat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi setelah menyetorkan uang. Namun hingga kini, janji itu tidak kunjung terwujud. Alissa tidak merinci total kerugian, namun dari pengakuan korban, setiap kiai disebut telah menyetor dana hingga ratusan juta rupiah.
PBNU Hanya Fasilitator, Bukan Pemilik
Alissa turut meluruskan kabar yang menyebut PBNU memonopoli kepemilikan dapur MBG. Ia menegaskan, hak milik sepenuhnya berada di tangan masing-masing lembaga atau yayasan yang mendaftar.
“Saya tegaskan lagi bahwa PBNU tidak memiliki dapur MBG sama sekali. Namun memang benar PBNU melakukan pendampingan kepada lembaga-lembaga di bawah naungannya terkait pengajuan pembukaan dapur MBG,” tegasnya.
Melalui Tim Koordinasi dan Akselerasi, PBNU hanya bertindak sebagai fasilitator yang membantu proses pendaftaran dan pengurusan regulasi. “Kita hanya membantu proses pengajuannya,” tambah Alissa.
Sikap Pribadi vs Amanah Organisasi
Di forum yang sama, Alissa mengaku secara pribadi kurang menyetujui implementasi program MBG. Namun sebagai bagian dari TKA, ia tetap berkomitmen mendampingi lembaga-lembaga NU agar terhindar dari praktik culas.
“Secara pribadi saya tidak menyetujui program MBG ini. Namun karena saya tergabung dalam TKA, maka saya berupaya mendampingi sepenuh hati dengan memastikan jalur yang dilalui adalah jalur yang jujur,” urainya.
Ia menutup dengan permintaan doa. “Mohon doanya agar dapur-dapur yang korupsi itu ditutup.”
Klarifikasi ini menjadi peringatan bagi seluruh pesantren dan lembaga pendidikan di lingkungan NU agar berhati-hati terhadap tawaran pembukaan dapur MBG dan selalu berkoordinasi melalui saluran resmi.***





