Trump menahan dukungan terbuka untuk Taiwan seusai bertemu Xi Jinping. Ia menyebut AS tak membutuhkan perang yang berjarak ribuan mil.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta Taiwan tidak mendeklarasikan kemerdekaan secara formal setelah bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing. Pernyataan itu langsung menambah kecemasan baru atas posisi Washington di tengah tekanan China terhadap Taipei.
Trump menyampaikan sikap itu saat berbicara kepada wartawan di Air Force One dalam perjalanan pulang dari China, Jumat, 15 Mei 2026. Ia mengaku banyak membahas Taiwan, tetapi tidak memberi komitmen terbuka soal respons AS jika China menyerang pulau tersebut.
“Hal terakhir yang kita butuhkan sekarang adalah perang yang berjarak 9.500 mil,” kata Trump, dikutip AP, Jumat, 15 Mei 2026. Ia juga mengatakan mendengar keberatan Xi, tetapi tidak memberi komentar langsung dalam pertemuan itu.
Taiwan Jadi Taruhan Baru
AP melaporkan, Trump belum memutuskan kelanjutan paket penjualan senjata besar untuk Taiwan setelah mendengar keberatan Xi. Pemerintahan Trump sebelumnya mengesahkan paket senjata USD11 miliar untuk Taipei pada Desember, sementara penjualan lain senilai USD14 miliar masih menunggu langkah resmi Gedung Putih.
Sikap itu memicu kekhawatiran karena Trump menyebut penjualan senjata ke Taiwan sebagai “kartu negosiasi” dalam hubungan AS dengan China. Bagi Taiwan, penjualan senjata AS selama ini menjadi salah satu penopang utama kemampuan pertahanan di tengah tekanan militer Beijing.
China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan. Reuters melaporkan, Xi memperingatkan Trump bahwa isu kemerdekaan Taiwan dan perdamaian Selat Taiwan tidak bisa berjalan bersama.
Taipei Tegaskan Kedaulatan
Kantor Kepresidenan Taiwan menegaskan Republik China, nama resmi Taiwan, adalah negara berdaulat, independen, dan demokratis. Taipei juga menyatakan kebijakan AS terhadap Taiwan tetap tidak berubah, termasuk penjualan senjata yang diatur dalam hukum AS.





