John Mearsheimer menilai Amerika Serikat tak lagi leluasa menekan Iran. Menurut dia, Donald Trump kini tak punya jalan keluar menarik selain mengakui kegagalan strategi.
Pakar hubungan internasional John Mearsheimer menilai posisi Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran makin terjepit. Dalam forum Arab Center Washington pada 10 April 2026, ia menyebut Presiden Donald Trump tidak bisa terus menaikkan eskalasi, tetapi juga tidak memiliki jalan keluar yang menguntungkan.
Menurut Mearsheimer, kebuntuan itu membuat Washington berada dalam posisi sulit di Timur Tengah. Ia menilai Trump menghadapi lawan yang memiliki daya tekan besar, terutama karena Iran masih memegang pengaruh atas dinamika kawasan dan jalur energi strategis.
Tekanan Gagal, Iran Justru Menguat
Mearsheimer menilai strategi tekanan maksimum yang selama ini dipakai Washington tidak menghasilkan tujuan utama. Dalam forum yang sama, ia mengatakan Iran justru tetap bertahan, sementara risiko ekonomi global kian membesar akibat ketegangan di sekitar Selat Hormuz.
“there’s no exit option here except admitting defeat,” kata Mearsheimer dalam forum Arab Center Washington, 10 April 2026. Ia juga menilai Iran memiliki “a lot of leverage” dalam situasi sekarang, sehingga posisi tawar Teheran dalam perundingan menjadi jauh lebih kuat.
Dua hari kemudian, dalam tulisannya di Substack pada 12 April 2026, Mearsheimer kembali menegaskan bahwa Trump tidak bisa menang bila terus menaikkan eskalasi terhadap Iran. Ia menulis, satu-satunya opsi keluar bagi Trump adalah mengakui kekalahan.
Invasi Dinilai Bukan Pilihan Realistis
Mearsheimer juga menilai serangan lebih jauh ke Iran tidak menawarkan jalan keluar yang masuk akal. Dalam analisisnya, perang yang diperluas justru berisiko memperburuk kerusakan ekonomi global dan menambah tekanan politik bagi Washington di dalam negeri maupun di tingkat internasional.
Ia menyebut konflik ini memperlihatkan batas kekuatan Amerika Serikat ketika berhadapan dengan negara yang siap menanggung biaya perang lebih panjang. Karena itu, bila negosiasi akhirnya ditempuh, Mearsheimer memandang langkah tersebut bukan lahir dari posisi kuat, melainkan karena pilihan Washington makin sempit.***





