Said Aqil Dorong Prabowo Jadikan RI Mercusuar Perdamaian Dunia

Said Aqil Siradj dorong Presiden Prabowo ambil langkah diplomasi tegas untuk jadikan Indonesia mercusuar perdamaian dunia.

​Mantan Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj, menyerukan penghentian peperangan di berbagai belahan dunia. Ia mendorong Presiden Prabowo Subianto untuk mengambil langkah diplomasi internasional yang berani, independen, dan tegak lurus pada kepentingan nasional demi mewujudkan perdamaian yang berkeadilan.

​Said menekankan bahwa dinamika global saat ini sangat membutuhkan ketegasan sikap Indonesia.

​”Di tengah dinamika global yang sarat tekanan dan kepentingan, Indonesia harus mampu berdiri tegak, tidak boleh tunduk pada kekuatan mana pun, tidak terseret dalam rivalitas blok, dan tidak mengorbankan prinsip demi kompromi pragmatis,” tegas Said.

Bacaan Lainnya

​Oleh karena itu, tantangan global menuntut aksi nyata dari seorang pemimpin, bukan sekadar janji manis di atas mimbar.

​”Momentum sejarah ini menuntut kepemimpinan yang berani, bukan sekadar retorika. Kepemimpinan yang mampu berkata ‘tidak’ terhadap tekanan yang merugikan kepentingan nasional. Kepemimpinan yang menempatkan kemanusiaan di atas dominasi dan keadilan di atas kekuasaan. Indonesia tidak boleh menjadi penonton dalam pergolakan global. Indonesia harus menjadi penentu arah,” imbuhnya.

​Ketahanan Nasional sebagai Fondasi Utama

​Untuk menjadi penentu arah global, Indonesia harus membereskan pekerjaan rumahnya terlebih dahulu. Said menilai perdamaian dunia tidak bisa terlepas dari kuatnya ketahanan nasional. Pemerintah harus memperkuat stabilitas politik, kemandirian ekonomi, serta ketahanan pangan dan energi agar Indonesia memiliki posisi tawar yang berwibawa di panggung internasional.

​”Menjaga keamanan nasional bukan berarti menutup diri dari dunia, melainkan memastikan bahwa Indonesia berdiri tegak, mandiri, berdaulat, dan dihormati, dalam setiap forum internasional,” ungkapnya.

​Sinergi Rakyat dan Dukungan Elemen Bangsa

​Selanjutnya, Said mengajak seluruh elemen bangsa—mulai dari akademisi, tokoh agama, masyarakat sipil, dunia usaha, generasi muda, hingga diaspora—untuk merapatkan barisan. Ia mengibaratkan persatuan rakyat sebagai jantung bangsa, dan kepercayaan kepada pemimpin sebagai napasnya. Kombinasi keduanya akan menciptakan kekuatan masif untuk menghadapi badai krisis global.

​”Saat jantung dan napas ini berpadu, tidak ada rintangan yang terlalu besar, tidak ada guncangan yang mampu mematahkan tekad kita. Bersama, kita berdiri kokoh, menyalakan semangat generasi, dan menaklukkan setiap tantangan—mengubah perbedaan menjadi kekuatan, dan harapan menjadi kenyataan. Inilah kekuatan sejati bangsa: rakyat yang bersatu, pemimpin yang dipercaya, dan cita-cita yang tak tergoyahkan,” ujar Said.

​Dukungan konkret juga datang dari Asosiasi Ormas Islam Indonesia. Mereka menegaskan komitmen moral dan konstitusional untuk mengawal pemerintahan.

​”Demi Indonesia yang aman, maju, berdaulat, adil, dan bermartabat, Asosiasi Ormas Islam Indonesia siap menjadi perisai yang tak tertembus, benteng moral yang kokoh, dan gelombang kekuatan yang mengguncang langit dan bumi. Dukungan kami bukan sekadar simbol, tapi aksi nyata yang lahir dari persatuan tak tergoyahkan, kesetiaan abadi pada negara, dan komitmen moral yang melampaui generasi,” sambungnya.

Menuju Puncak Kejayaan

​Pada akhirnya, visi besar menjadikan Indonesia sebagai mercusuar perdamaian dunia membutuhkan sinergi dan tekad yang bulat. Said menutup seruannya dengan mengajak seluruh rakyat menyatukan suara, tenaga, dan pikiran demi kebangkitan nasional.

​”Bersama Presiden, rakyat Indonesia akan menjadi kekuatan moral, spiritual, dan strategis yang mengguncang langit, meneguhkan keamanan, menumbuhkan kemakmuran, dan mengangkat martabat bangsa ke puncak kejayaan yang abadi dan tak tergoyahkan. Kini saatnya berdiri sebagai satu tubuh, satu hati, dan satu bangsa. Kini saatnya Indonesia bersinar sebagai mercusuar peradaban dunia jaya, tak tergoyahkan, dan abadi sepanjang zaman,” tutup Said.***

Pos terkait