Veda Ega Pratama, Red Bull Athlete Baru Indonesia di Jalur Moto3

Veda Ega Pratama, Pebalap Indonesia masuk jajran Red Bull Athlete. Foto:SS Redbull
Nama Veda Ega Pratama kian menguat di peta balap internasional. Menjelang debutnya di ajang Moto3 World Championship musim 2026, 1 Maret 2026, pebalap muda Indonesia ini resmi menyandang status Red Bull Athlete, dan dipastikan naik kelas bersama Honda Team Asia.

Ini tonggak penting. Langkah yang menegaskan jalur pengembangan Asian Road to MotoGP terasa nyata—dan Veda berada di garis terdepan. Semua berawal dari rumah. Veda mengenal balap sejak usia sangat dini, mengikuti jejak Sudarmono, ayah kandunya yang aktif di kelas Super Sport 600 Kejuaraan Nasional.

Motor Mini GP pertama datang saat ia berusia lima tahun. Setahun kemudian, lintasan menjadi taman bermainnya. Dukungan keluarga hadir penuh:  sang ayah setia mendampingi di sirkuit, ibu menjaga keseharian keluarga. Fondasi itu membentuk disiplin sejak awal.

“Idola saya Casey Stoner,” ujar Veda seperti dilansir laman Red Bull, Senin, 2 Februari 2026. Ia menyebut ambisinya sederhana sekaligus besar: menjadi pebalap Indonesia pertama yang juara dunia MotoGP. Kalimatnya singkat, nadanya tegas. Optimisme, baginya, bukan slogan—melainkan kerja harian.

Bacaan Lainnya

Jejak prestasi Veda tercatat rapi. Periode 2013–2015 ia lalui dari minibike hingga meraih kemenangan di Motocross 50cc. Tahun 2019 menjadi lompatan penting: juara Kejuaraan Nasional Balap Bebek/Underbone sekaligus juara Astra Honda Racing School. Konsistensi berlanjut ke level Asia. Pada 2022, ia finis ketiga klasemen akhir Asia Talent Cup (IATC). Setahun berselang, Veda menutup IATC 2023 sebagai juara umum dengan catatan fenomenal—sembilan kemenangan dari 12 balapan—serta finis ketiga di Asia Road Racing Championship (AP250).

Menembus Eropa, Menguatkan Reputasi

Debut Eropa dimulai pada 2024 lewat Red Bull Rookies Cup. Veda finis kedelapan klasemen akhir dan mencatat podium perdananya di Austria. Musim 2025 menaikkan level cerita. Ia tampil konsisten, terlibat langsung dalam perebutan gelar, dan mengunci status runner-up. Dua kemenangan bersejarah diraih di Mugello (Italia) dan Sachsenring (Jerman)—menjadikannya pebalap Indonesia pertama yang menang di sirkuit-sirkuit tersebut. Total enam podium menutup musim.

Pos terkait