Upaya meluruskan sejarah kelahiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, kembali mengetuk perhatian pemerintah dari sebuah ruang pertemuan di Surabaya.
Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang, pengelola Situs Persada Soekarno Kediri, serta sejumlah tokoh masyarakat menemui Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon di Surabaya, Senin (22/12). Dalam pertemuan yang berlangsung singkat namun padat itu, rombongan memaparkan kajian sejarah yang menyebut Bung Karno lahir di Ploso, Jombang, pada 6 Juni 1902—sebuah simpul sejarah yang selama puluhan tahun berada di antara dua klaim wilayah.
Paparan utama disampaikan anggota TACB Jombang, Arif Yulianto. Di hadapan Menteri Kebudayaan, ia menyampaikan ringkasan kajian tim yang dirangkai dari arsip lama, literatur sejarah, serta penelusuran situs. Argumen itu diletakkan bukan sebagai klaim sepihak, melainkan sebagai undangan bagi pemerintah untuk membaca ulang sejarah secara lebih jernih.
“Dokumen yang kami serahkan berupa kajian TACB Jombang tahun 2024 tentang Situs Kelahiran Bung Karno di Ploso Jombang, serta salinan kliping-kliping berita lama,” ujar Arif Yulianto, yang akrab disapa Cak Arif, seusai pertemuan.
Arsip, Buku, dan Ingatan Sejarah
Selain kajian tim, TACB Jombang turut menyerahkan sejumlah buku rujukan yang dinilai memperkuat narasi tersebut. Di antaranya Candradimuka karya Dian Sukarno, Ida Ayu Nyoman Rai Ibu Bangsa karya Prof. Nurinwa dan kolega, serta Menemukan Bung Karno di Jombang karya Moch. Faisol. Literatur itu diposisikan sebagai pengikat konteks—bahwa kelahiran Bung Karno tak bisa dilepaskan dari jejak sosial dan kultural di Jombang awal abad ke-20.
Ketua TACB Jombang, Nasrul Ilah, menilai kesediaan Menteri Kebudayaan menerima rombongan sebagai sinyal penting. Bagi Nasrul, pertemuan tersebut bukan sekadar audiensi formal, melainkan pintu awal bagi dialog lanjutan yang lebih substantif.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada beliau. Semoga pertemuan ini bisa menjadi katalisator penetapan Situs Kelahiran Bung Karno di Ploso Jombang,” kata Nasrul.
Ia menyebut dialog berlangsung efektif. Meski waktunya terbatas, ruang komunikasi terasa terbuka, termasuk rencana mempertemukan pihak-pihak yang selama ini berada di dua kutub klaim sejarah. “Tabayyun dengan Surabaya itu kami harapkan bisa direalisasikan dalam waktu dekat,” ujarnya, menekankan pentingnya forum akademis yang setara.
Jejak Personal di Balik Audiensi
Pertemuan dengan Fadli Zon juga memunculkan lapisan ingatan personal. Nasrul mengenang, ini bukan kali pertama ia berjumpa dengan Menteri Kebudayaan tersebut. Sekitar 2007, ia pernah mendampingi kunjungan Fadli Zon ke Desa Japanan, Kecamatan Mojowarno, Jombang. “Beliau ternyata masih ingat,” ucap Nasrul, seolah menegaskan bahwa sejarah kerap berjalan melalui relasi panjang yang saling bersilangan.
Rombongan Jombang yang hadir dalam pertemuan itu terdiri dari Ketua TACB Jombang Nasrul Ilah, anggota TACB Arif Yulianto, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Jombang Heru Cahyono, Pembina Situs Persada Soekarno Kediri RM Kuswartono, serta tokoh masyarakat Jombang Joko Herwanto. Kehadiran mereka mencerminkan kerja kolektif lintas institusi dan lintas generasi.
Senada dengan Nasrul, Arif Yulianto berharap Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dapat memfasilitasi forum lanjutan antara pihak Jombang dan Surabaya. Forum tersebut, menurutnya, penting untuk menguji dan membandingkan data secara terbuka dan akademis. “Kami juga mohon dukungan dan doa seluruh masyarakat Jombang agar perjuangan pelurusan sejarah ini bisa memberi sesuatu yang terbaik bagi daerah,” katanya.
Langkah Berlapis Menuju Kajian Pemerintah
Audiensi di Surabaya merupakan mata rantai lanjutan dari upaya yang telah ditempuh sebelumnya. Pada Rabu (17/12/2025), TACB Jombang bersama pegiat sejarah setempat lebih dulu mengajukan bukti-bukti terkait lokasi kelahiran Bung Karno di Ploso Jombang kepada pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan.
Dalam pengajuan tersebut, TACB menyodorkan hasil kajian tim, arsip pemberitaan lama, literatur pendukung, serta empat buku yang membahas riwayat hidup Bung Karno. Tujuannya, kata Arif Yulianto, adalah memberi pemahaman yang utuh kepada pemerintah pusat agar fakta sejarah dikaji secara objektif dan berimbang.
“Melalui penyerahan ini, kami berharap pemerintah dapat mengkaji lebih dalam dan objektif mengenai fakta sejarah kelahiran Bung Karno,” ujar Arif.
Ia juga mengusulkan agar Kementerian Kebudayaan menginisiasi forum bersama yang melibatkan Jombang dan Surabaya—dua daerah yang selama ini memiliki klaim berbeda. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang akademis untuk menguji data, bukan arena adu klaim emosional.
Dukungan Keluarga dan Tahap Berikutnya
Dari pihak keluarga, dukungan disampaikan RM Kuswartono, Pembina Situs Persada Soekarno di Kediri. Ia menegaskan keyakinan keluarga bahwa Bung Karno lahir di Ploso tidak berdiri di atas nostalgia semata. “Keyakinan kami dibangun di atas dasar bukti, bukan hanya ikatan emosional,” ujarnya.
Kini, dokumen autentik yang diserahkan TACB Jombang telah diterima Menteri Kebudayaan. Berkas tersebut akan dipelajari dan dikaji oleh tim ahli serta sejarawan Kementerian Kebudayaan. Proses ini menandai babak baru: ketika pelurusan sejarah bergerak dari inisiatif daerah menuju kajian resmi pemerintah.
Pelurusan sejarah, pada akhirnya, bukan sekadar soal titik lahir seorang presiden. Ia menyentuh cara sebuah bangsa merawat ingatan kolektifnya—tentang kejujuran pada data, keberanian meninjau ulang narasi lama, dan kesediaan pemerintah membuka ruang bagi kebenaran yang diuji bersama.***





