Apa yang Terjadi Jika Nol di Uang Kita Hilang?

Rencananya akan ada perubahan cara penulisan nilai rupiah pada 2027 nanti. Ada tiga angka nol yang bakal dihilangkan, tanpa mengurangi nilai mata uang. - Ilustrasi dari Canva
Kalau jadi, rupiah akan “diringkas” mulai 2027. Bukan nilainya yang dipotong, tapi cara kita menulis dan memandangnya yang berubah. Apa yang akan terjadi setelah itu?

Bayangkan pagi di tahun 2027. Harga kopi di warung bukan lagi Rp10.000, tapi Rp10. Nasi goreng bukan Rp20.000, melainkan Rp20. Bukan karena harga turun, melainkan karena rupiah disederhanakan. Pemerintah memangkas tiga nol dari uang kita tanpa mengubah daya belinya.

Langkah ini disebut redenominasi. Artinya, Rp1.000 menjadi Rp1, Rp10.000 jadi Rp10, dan Rp100.000 berubah menjadi Rp100. Nilainya tetap, hanya cara menulis dan menyebutnya yang lebih pendek.

Dari 2010 ke 2027: Perjalanan Panjang Menuju “Rupiah Baru”

Ide redenominasi bukan barang baru. Tahun 2010, Menteri Keuangan Agus Martowardojo bersama Gubernur BI Darmin Nasution sudah melontarkan gagasan ini sebagai bagian dari “modernisasi sistem moneter.” Namun rencana itu tertunda, karena krisis global masih terasa dan inflasi belum stabil.

Bacaan Lainnya

Wacana tersebut muncul lagi pada 2017 di masa Sri Mulyani Indrawati, tapi pemerintah kala itu lebih fokus pada reformasi pajak dan defisit APBN.

Baru pada era Kabinet Indonesia Maju II, gagasan ini kembali mengemuka melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, ekonom senior yang sebelumnya menjabat Kepala Lembaga Penjamin Simpanan.

Purbaya menegaskan bahwa redenominasi bukan sekadar urusan kosmetik, melainkan bagian dari reformasi struktur moneter dan upaya memperkuat citra rupiah di mata dunia. Dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR pada Oktober 2025, ia menyampaikan bahwa RUU Redenominasi Rupiah sedang difinalisasi bersama Bank Indonesia dan ditargetkan berlaku mulai 1 Januari 2027.

“Ini bukan pemotongan nilai uang, melainkan penyederhanaan sistem ekonomi agar lebih efisien dan rasional,” ujar Purbaya kala itu.

Redenominasi rupiah bukan sekadar menghapus tiga nol di belakang angka, tapi upaya menata ulang persepsi nilai dan kepercayaan terhadap mata uang sendiri. – Ilustrasi dibuat dengan SORA
Mengapa Diringkas?

Rupiah kita memang terlalu banyak nol. Dalam transaksi digital, deretan angka itu bukan hanya membuat tampilan jadi rumit, tapi juga meningkatkan risiko kesalahan pencatatan.

Harga air mineral Rp5.000 di Indonesia bisa setara dengan 100 yen di Jepang atau 0,3 dolar di Amerika. Perbandingan ini sering kali memberi kesan seolah-olah rupiah lemah, padahal daya belinya tidak jauh berbeda.

Dengan redenominasi, segala urusan keuangan — dari laporan akuntansi, transaksi perbankan, hingga pembayaran digital — akan berjalan lebih efisien. Sistem menjadi lebih ramping, lebih cepat, dan lebih mudah dipahami oleh publik maupun investor asing.

Rupiah yang lebih sederhana juga diharapkan mampu menumbuhkan kepercayaan diri bangsa terhadap stabilitas ekonominya sendiri.

Belajar dari Negara Lain

Turki menjadi contoh paling populer. Pada 2005, pemerintahnya memangkas enam nol dari Lira dan memperkenalkan Yeni Türk Lirası atau “Lira Baru.” Harga roti yang semula sejuta lira berubah menjadi satu lira. Bukan hanya berhasil secara teknis, langkah itu juga memulihkan kepercayaan masyarakat dan pasar internasional terhadap ekonomi Turki.

Rumania melakukan hal serupa di tahun yang sama. Mereka memangkas empat nol dari mata uang Leu sebagai bagian dari reformasi menuju Uni Eropa. Hasilnya, sistem keuangan Rumania menjadi lebih stabil dan sejalan dengan standar Euro.

Namun tidak semua berhasil. Iran yang menghapus empat nol dari Rial pada 2025 justru memperlihatkan sisi lain dari kebijakan ini. Tanpa reformasi ekonomi yang menyeluruh, redenominasi hanya menjadi ilusi — harga tetap naik, inflasi tak terkendali, dan kepercayaan publik tak pernah pulih.

Apa yang Akan Terjadi di Indonesia?

Jika RUU Redenominasi disahkan tepat waktu, maka 2027 akan menjadi tahun perubahan besar. Pemerintah kemungkinan akan menetapkan masa transisi dua hingga tiga tahun, di mana dua versi rupiah — lama dan baru — beredar bersamaan.

Di toko-toko, papan harga mungkin akan menampilkan dua nominal: Rp10.000 (Rp10 Baru).

Bank, sistem kasir, hingga dompet digital seperti GoPay, DANA, dan OVO akan menyesuaikan sistem mereka agar mengenali nominal baru.

Perusahaan juga harus menyesuaikan laporan keuangan dan kontrak bisnis, sementara masyarakat belajar cara baru menyebut harga barang.

Namun tantangan terbesarnya bukan soal teknis, melainkan psikologis. Dalam setiap proses redenominasi, selalu ada risiko “inflasi persepsi” — ketika pedagang atau konsumen merasa harga naik hanya karena angka terlihat lebih kecil. Bank Indonesia harus menjaga agar peralihan ini tidak menimbulkan spekulasi atau permainan harga.

Redenominasi Bukan Devaluasi

Satu hal yang harus ditegaskan: redenominasi tidak menurunkan nilai uang.

Kalau sebelum redenominasi Rp100.000 bisa membeli 10 liter bensin, maka setelahnya Rp100 baru pun memiliki daya beli yang sama.

Perubahan ini bersifat netral dari sisi ekonomi. Tidak menambah kekayaan, tidak pula mengurangi daya beli.

Tapi dari sisi persepsi, dampaknya bisa besar. Nilai mata uang yang lebih ramping akan lebih mudah dipahami dalam transaksi internasional, sekaligus menegaskan citra rupiah sebagai mata uang yang modern, efisien, dan stabil.

Tantangan Sosial dan Kepercayaan Publik

Keberhasilan redenominasi tidak diukur dari berapa banyak nol yang dihapus, melainkan dari kesiapan sosial, ekonomi, dan teknologinya.

Turki dan Rumania berhasil karena masyarakat mereka diedukasi jauh sebelum kebijakan dijalankan. Iran gagal karena reformasi dilakukan di tengah krisis dan tanpa dukungan publik.

Indonesia punya peluang besar untuk menjadi contoh sukses di Asia Tenggara, asalkan inflasi tetap terkendali, pertumbuhan ekonomi stabil, dan komunikasi publik dilakukan secara terbuka. Edukasi menjadi kunci, sebab perubahan sebesar ini menyentuh hal yang paling dekat dengan keseharian: uang di dompet dan harga di papan toko.

Rupiah Baru, Mental Baru

Jika semua berjalan sesuai rencana, tahun 2027 akan tercatat sebagai babak baru sejarah rupiah. Redenominasi tidak hanya soal mengganti angka di kertas uang, tetapi soal membentuk cara berpikir baru: bahwa efisiensi dan kepercayaan diri adalah bagian dari kemajuan bangsa.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pernah berkata, “Rupiah baru bukan soal angka, tapi soal cara berpikir. Kita sedang menyiapkan mental ekonomi bangsa yang lebih percaya diri di kancah global.”

Pada akhirnya, menyederhanakan rupiah bukan tentang memotong nol. Ini tentang memulihkan makna — bahwa nilai sejati mata uang terletak pada keyakinan rakyat terhadap negaranya sendiri.***

Pos terkait