Eri Cahyadi Kumpulkan GM Hotel Surabaya: “Surabaya Nggak Boleh Dicoreng Pesta Maksiat”

Pertemuan antara Wali Kota Eri Cahyadi dengan GM hotel se-Surabaya, Sabtu (25/10). - Samudrafakta/Kontributor
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengumpulkan para GM hotel untuk memperkuat komitmen menjaga citra Kota Pahlawan pasca-terungkapnya pesta seks sesama jenis yang melibatkan puluhan pria, 29 di antaranya positif HIV.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menggelar pertemuan dan silaturahmi dengan para General Manager (GM) hotel yang tergabung dalam Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) se-Kota Pahlawan, Sabtu (25/10).

Dalam forum itu, Eri menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah dan pelaku industri perhotelan untuk menjaga citra Surabaya setelah mencuatnya kasus pesta seks sesama jenis di sebuah hotel.

“Surabaya ini kota yang dibangun dengan syariat dan kekuatan agama. Jadi, jangan sampai Surabaya dicoreng dengan hal seperti itu,” tegas Eri.

Bacaan Lainnya

Pernyataan itu disampaikan menyusul penggerebekan pesta seks sesama jenis di Hotel Midtown Residence, kawasan Ngagel, Ahad dini hari (19/10). Polisi mengamankan 34 pria dalam keadaan tanpa busana. Dari hasil pemeriksaan Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya, 29 di antaranya dinyatakan positif HIV.

Sebagian besar peserta pesta bukan warga Surabaya. Saat ini Dinkes tengah berkoordinasi dengan Polrestabes Surabaya untuk memastikan mereka menjalani pengobatan rutin dan pemantauan oleh petugas lapangan.

Menurut keterangan Kasat Samapta Polrestabes Surabaya, AKBP Erika, penggerebekan dilakukan setelah warga melaporkan aktivitas mencurigakan. “Begitu pintu kamar dibuka, petugas menemukan puluhan pria tanpa busana tengah berpesta seks sesama jenis,” ujarnya.

Menanggapi kasus inilah, Wali Kota Eri menegaskan bahwa sektor jasa, termasuk industri perhotelan, adalah tulang punggung ekonomi Surabaya. Karena itu, menjaga moral dan keamanan kota harus dilakukan bersama.

“Kota Surabaya ini kota jasa. Pertumbuhan ekonomi kita berasal dari sektor jasa, termasuk hotel. Maka saya mengundang seluruh anggota PHRI dan GM hotel untuk berkomitmen menjaga agar kejadian seperti itu tidak terulang lagi,” katanya.

Ia menyebut para pengelola hotel sudah sepakat memperketat pengawasan dan memperkuat sistem deteksi dini terhadap aktivitas mencurigakan. “Teman-teman hotel punya komitmen agar kejadian itu tidak terulang. Kita akan lakukan pelatihan bersama kepolisian dan beberapa lembaga,” ucapnya.

Eri juga meminta pihak hotel segera melapor bila menemukan aktivitas tamu yang mencurigakan. “Kalau ada yang aneh, misalnya orang banyak keluar masuk kamar berulang kali, langsung hubungi Polrestabes Surabaya atau Call 112. Kita akan bergerak bersama,” ujarnya.

Selain menjaga moralitas, langkah ini juga penting untuk melindungi stabilitas ekonomi kota. “Pertumbuhan ekonomi Surabaya sangat dipengaruhi oleh keberadaan hotel. Jadi kita harus bersama-sama menjaga agar hotel tetap hidup, tapi jangan sampai maksiat juga terjadi di sana,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Harian PHRI Korwil Surabaya, Firman Sudi Permana, menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Pemkot. “Kalau kami dari PHRI sudah ada komitmen. Alhamdulillah, kami diberi kesempatan oleh Pak Eri untuk menerima masukan. Karena dampaknya bukan hanya dari sisi pariwisata, tapi juga budaya dan citra kota,” ujarnya.

Firman menegaskan kasus semacam ini bisa menurunkan okupansi hotel dan menimbulkan kekhawatiran wisatawan. Karena itu, PHRI akan memperkuat pengawasan di seluruh aspek operasional hotel, mulai dari keamanan hingga resepsionis. “Kalau ada indikasi sesuatu yang tidak normal, misalnya jumlah tamu terlalu banyak dalam satu kamar, itu harus segera dicegah. Bisa langsung lapor ke CC 112 seperti disampaikan Pak Wali,” katanya.

PHRI juga akan segera mengeluarkan surat edaran ke seluruh anggota untuk memperketat pengawasan dan meningkatkan koordinasi dengan kepolisian serta Pemkot. “Secepatnya, paling lambat seminggu setelah ini kami akan evaluasi dan adakan pelatihan yang tepat sesuai hasil investigasi,” tandas Firman.***

Pos terkait