Atasi Sampah Sisa MBG, Pemerintah Bisa Bikin Green and Food Recycling Plaza. Apa Itu?

Sampah sisa MBG bisa diolah menjadi kompos, jika pemerintah mau. (Ilustrasi)
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyisakan sampah. Perlu ada konsep daur ulang yang tepat untuk mengatasi perkara sampah itu, mengingat MBG adalah program berkelanjutan.

“Tanpa sistem pengelolaan yang baik, limbah ini dapat menimbulkan masalah lingkungan, seperti peningkatan volume sampah, emisi gas rumah kaca, serta pencemaran tanah dan air,” ujar dosen Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Mercy Bientri Yunindanova, dikutip dari laman UNS.

Sebagai informasi, pada Januari 2025 lalu, Yayasan Gita Pertiwi mengeluarkan pernyataan jika tiap paket menu MBG yang dibagikan kepada siswa memunculkan potensi sampah pangan atau pangan terbuang sebesar 90 gram.

Kata Direktur Program Gita Pertiwi, Titik Eka Sasanti, tiap porsi MBG memiliki berat pangan sebesar 300 gram, namun 30 persennya berpotensi menjadi sampah pangan.

Bacaan Lainnya

Nah, untuk mengatasi masalah sampah tersebut, Mercy menyarankan Pemerintah meniru sistem pengelolaan sampah yang dilakukan di Kota Toyonaka, Jepang. Kota ini, dalam sehari,  menghasilkan limbah 1.000 kg plastik. Pemerintah Daerah Toyonaka membangun Green and Food Recycling Plaza untuk mengolahnya.

Plaza ini merupakan pusat pengelolaan dan edukasi daur ulang limbah organik. Kebanyakan limbah di sana adalah sisa makan siang anak sekolah.

Green and Food Recycling Plaza dikelola oleh organisasi nirlaba Hanato Midori no Network Toyonaka. Organisasi tersebut mengolah limbah menjadi kompos dengan kualitas tinggi.

Kompos itu kemudian didistribusikan sebagai bahan perbaikan tanah untuk pertanian, penghijauan kota, hingga sekolah. Untuk memproduksi kompos, limbah dicampur serpihan ranting pohon.

Untuk melakukan pengelolaan sampah semacam ini, jelas Mercy, sekolah harus mengajarkan memilah sampah organik dan anorganik. Pihak sekolah melibatkan guru dan siswa dalam pengolahannya sebagai bagian dari edukasi.

Kompos yang dihasilkan bisa ditebarkan ke taman sekolah, sekaligus untuk mendukung gerakan penghijauan. Jika sampah terhitung banyak, sekolah bisa melibatkan pihak lain, seperti komunitas, sektor swasta, atau organisasi nirlaba.

“Mengadopsi konsep daur ulang seperti di Kota Toyonaka, Osaka, Jepang dapat membantu Indonesia mengantisipasi tantangan lingkungan dalam program MBG. Dengan strategi yang tepat, limbah yang sebelumnya menjadi masalah dapat diubah menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat,” jelas Mercy. ***

Pos terkait