Japan Airlines (JAL) mengalami serangan siber pada Kamis (26/12), yang mengganggu layanan bagasi dan menunda lebih dari 70 penerbangan domestik dan internasional hingga empat jam. Insiden ini terjadi menjelang musim liburan Tahun Baru, sebelum akhirnya sistem dipulihkan pada sore hari.
Menurut laporan Kyodo News, gangguan mulai terjadi pada pukul 07.25 pagi, yang menyebabkan pembatalan empat penerbangan domestik. Penjualan tiket untuk penerbangan domestik dan internasional sempat dihentikan sementara, namun reservasi sebelumnya tetap berlaku. Penjualan tiket kembali berjalan normal setelah sistem dipulihkan sekitar pukul 13.20 siang.
Pihak JAL memastikan tidak ada kebocoran informasi pribadi maupun kerusakan akibat virus komputer. “Kami berhasil menemukan penyebabnya dan segera memulihkan sistem,” ujar pihak maskapai.
Serangan Siber DDoS
Sumber investigasi mengungkapkan, serangan siber yang dialami JAL kemungkinan merupakan serangan penolakan layanan terdistribusi (DDoS), di mana jaringan kewalahan oleh data dari berbagai sumber dalam waktu singkat.
“Melalui Kementerian Perhubungan, kami telah meminta JAL untuk memperbaiki sistemnya sesegera mungkin guna menanggapi pelanggan yang terdampak dengan tepat,” ujar Kepala Sekretaris Kabinet Yoshimasa Hayashi pada konferensi pers.
Maskapai lain, seperti All Nippon Airways, Skymark Airlines, Solaseed Air, dan Star Flyer, tidak terdampak serangan siber ini dan tetap beroperasi seperti biasa.
Dampak Luas hingga ke Pengiriman
Serangan tersebut tidak hanya mengganggu penerbangan, tetapi juga berdampak pada pengiriman surat dan paket yang dilakukan oleh Japan Post Co akibat gangguan pada layanan penerbangan JAL.
Di Bandara Haneda Tokyo, penumpang terlihat menanyai staf dan memeriksa ponsel mereka dengan cemas. “Saya bisa check in dengan baik. Saya sudah menantikan perjalanan akhir tahun ini, tetapi tetap saja mengkhawatirkan adanya masalah,” kata seorang pria berusia 30-an yang terbang ke Pulau Ishigaki, Okinawa.
Namun, situasi di Bandara Narita, Prefektur Chiba, terpantau kondusif tanpa adanya kebingungan.
Seorang pria berusia 60-an yang hendak pulang ke Matsuyama, Prefektur Ehime, mengungkapkan kekesalannya. “Ini mengganggu di periode akhir tahun yang sibuk,” katanya. Insiden ini kembali menyoroti kerentanan keamanan siber Jepang, terutama di tengah persiapan negara itu memperkuat pertahanan siber dan kerja sama internasional.***