Pada hakikatnya, bermuka dua adalah persoalan hati. Adakah ia soal kedewasaan, atau mungkin soal keberanian dalam menempuh jalan hidup yang kita pilih? Kita semua sudah mafhum, dunia politik tak pernah lepas dari permainan wajah ganda.
Ada wajah di depan panggung dan satu lagi di belakang tirai. Wajah itu tersenyum, memeluk hangat di depan khalayak, namun sejurus kemudian berbisik pelan pada lawan atau lawannya, merencanakan langkah berikutnya. Dalam politik, di mana aliansi, kompromi, dan kepentingan saling tumpang tindih, menjadi “bermuka dua” bukan lagi soal pilihan, tetapi tampaknya sudah menjadi bagian dari sistem.
Lihatlah menjelang Pilkada serentak tahun ini. Ada calon kepala daerah yang tampak berada di dua tempat sekaligus, menyatakan setia pada satu partai, namun terpaksa tersenyum pada lawan, bahkan mendukungnya di depan publik. Mereka bukan pelaku, mereka hanyalah bidak yang digerakkan tangan-tangan tak terlihat. Dalam permainan ini, mereka dipaksa memainkan peran ganda, baik suka maupun tidak suka. Wajah-wajah politik itu seolah harus luwes dalam segala situasi, karena nasib di tangan mereka tidak sepenuhnya ada pada diri mereka sendiri.
Di tingkat nasional, kemenangan Koalisi Indonesia Maju (KIM) seolah menjadi puncak dari drama politik tahun ini. Kita semua menyaksikan betapa rumitnya perjalanan menuju kekuasaan, bagaimana PDIP yang sejatinya memenangi Pemilu, akhirnya harus bersanding dengan partai-partai lain di bawah bayang-bayang dominasi politik yang seolah tanpa batas.
Lalu ada nama besar yang kini diharapkan menjadi pemimpin masa depan, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, yang diusung oleh kombinasi dari berbagai partai: Partai Gerindra, Golkar, PAN, Demokrat, hingga partai-partai non-parlemen dan partai lokal seperti Partai Aceh. Dalam lingkaran kekuasaan sebesar ini, sangat mudah bagi siapa saja untuk tergelincir dan kehilangan diri, terperangkap dalam wajah-wajah yang saling bertentangan.
Tetapi, apakah bermuka dua ini benar-benar hanya persoalan politisi? Kita sebagai rakyat juga seharusnya berkaca. Bukankah kita sering kali menutup mata pada kebohongan yang tampak jelas, pada retorika manis yang tanpa isi, karena kita pun sebenarnya punya harapan dan kepentingan?
Kita memilih karena sebuah janji yang terdengar indah, bukan karena siapa mereka atau apa yang mereka bawa. Kita menaruh harapan pada wajah-wajah yang berubah-ubah, berharap mungkin kali ini wajah itu akan tetap sama di balik layar, tanpa perubahan.
Namun, harapan itu sering kali hancur berantakan. Rakyat berulang kali dikecewakan, bukan karena kurangnya janji, tetapi karena janji itu sendiri telah menjadi mainan politik.
Ketika ada calon kepala daerah dari partai tertentu “terpaksa” mendukung pasangan calon dari partai saingan demi aliansi politik, apakah rakyat paham apa yang sebenarnya terjadi di belakang layar? Tidak.
Yang mereka tahu hanyalah tampilan luar, senyum dan jabatan tangan di atas panggung. Saat itu juga, kita mulai menyadari betapa besarnya pengorbanan yang mereka lakukan untuk menjaga tampilan itu. Tetapi, kita pun mesti waspada, sebab wajah-wajah itu bisa saja kembali berubah ketika sorot lampu panggung dipadamkan.
Terjebak bermuka dua memang menyakitkan, namun ini juga seperti pisau bermata dua. Bagi mereka yang terpaksa menjalani peran ini, mungkin rasa bersalah adalah harga yang harus dibayar. Namun, pada akhirnya, rakyat yang harus paling hati-hati, sebab di tangan kita juga terdapat kekuatan untuk memilih atau tidak memilih mereka.
Dalam masyarakat yang semakin paham politik seperti sekarang, kita berharap ada kesadaran kolektif untuk tidak lagi terjebak dalam jebakan bermuka dua ini. Rakyat mesti jeli, berani membedah siapa calon pemimpin mereka sebenarnya.
Bukan sekadar tampilan di depan publik, tetapi bagaimana mereka memperlakukan rakyat ketika tidak ada kamera dan mikrofon. Karena sejatinya, seorang pemimpin yang jujur tidak pernah memakai topeng, ia hanya punya satu wajah—wajah yang sama, baik di hadapan rakyat maupun di hadapan dirinya sendiri.
Kita semua menginginkan perubahan, bukan hanya wajah di kursi kekuasaan. Tetapi perubahan itu mustahil terjadi jika kita terus menerus mempercayai topeng yang sama, mempercayai kata-kata manis yang ternyata kosong.


