TEL AVIV – Israel mengklaim pada Kamis (1/8/2024), bahwa mereka telah membunuh Mohammed Deif, komandan militer Hamas di Gaza, dalam serangan udara pada 13 Juli 2024 di al-Mawasi, sebelah barat Khan Younis, di Jalur Gaza selatan.
Serangan tersebut menghantam tenda-tenda yang menampung para pengungsi Palestina dan sebuah pabrik penyulingan air, menewaskan sedikitnya 90 orang dan melukai 300 lainnya.
Pada saat itu, seorang pejabat senior Hamas bersikeras bahwa Deif telah melarikan diri dan dalam keadaan “baik-baik saja”. Al-Mawasi adalah zona kemanusiaan yang ditetapkan di Gaza. “Komandan Mohammed Deif baik-baik saja dan secara langsung mengawasi operasi sayap militer Hamas,” kata pejabat itu kepada kantor berita AFP.
Namun, Israel kini mengklaim bahwa mereka memiliki bukti atas kematian Deif. Al Jazeera melaporkan, Deif telah lama berada di puncak daftar orang yang paling dicari Israel. Jadi, siapakah Mohammed Deif dan mengapa ia menjadi tokoh penting bagi Hamas, gerakan Palestina, dan Israel?
Deif adalah salah satu pendiri sayap militer Hamas, Brigade Al Qassam, pada tahun 1990-an dan telah memimpin pasukan tersebut selama lebih dari 20 tahun. Ia juga disebut-sebut sebagai tokoh kunci yang merencanakan serangan bom bunuh diri yang menewaskan puluhan warga Israel.
Israel mengidentifikasi dia dan pemimpin Hamas di Gaza, Yahya Sinwar, sebagai arsitek utama serangan 7 Oktober 2023. Pada tanggal 7 Oktober 2023 tersebut, Hamas dan beberapa kelompok militan Palestina lainnya melancarkan serangan bersenjata terkoordinasi dari Jalur Gaza ke wilayah Gaza di Israel selatan, invasi pertama ke wilayah Israel sejak Perang Arab-Israel 1948.
Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 1.139 orang di Israel selatan dan memicu perang terhadap Gaza. Pada pagi hari tanggal 7 Oktober, Hamas mengeluarkan rekaman suara Deif yang langka yang mengumumkan operasi “Banjir Al-Aqsa”, yang menandakan bahwa serangan tersebut merupakan pembalasan atas serangan Israel ke Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, tempat tersuci ketiga umat Islam.
Deif, 58 tahun, jarang berbicara atau muncul di depan umum. Jadi ketika saluran TV Hamas mengumumkan bahwa ia akan berbicara pada tanggal 7 Oktober, warga Palestina di Gaza tahu bahwa ada sesuatu yang penting yang sedang terjadi.
Berbicara dengan suara tenang dalam rekaman tersebut, Deif mengatakan Hamas telah berulang kali memperingatkan Israel untuk menghentikan kejahatannya terhadap warga Palestina, membebaskan para tahanan, dan menghentikan perampasan tanah Palestina.
“Hari ini kemarahan Al-Aqsa, kemarahan rakyat dan bangsa kami meledak. Para mujahidin kami, hari ini adalah hari kalian untuk membuat penjahat ini mengerti bahwa waktunya telah berakhir,” kata Deif.





