PBB Sebut Setiap Tahun Lebih dari 500 Ribu Orang Meninggal akibat Cuaca Ekstrem 

Ilustrasi cuaca ekstrem.
WASHINGTON—Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, menyebut jika cuaca ekstrem telah menewaskan lebih dari 500 ribu orang di seluruh dunia per tahun. PBB pun menyoroti bahaya panas yang semakin meningkat dari tahun ke tahun.

“Panas diperkirakan membunuh hampir setengah juta orang per tahun, sekitar 30 kali lebih banyak dari pada siklon tropis,” kata Guterres kepada wartawan, dikutip dari Antara, Jumat (26/7/2024).

“Kita tahu apa yang mendorongnya (cuaca ekstrem): perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia dan bahan bakar fosil. Dan kita tahu itu akan menjadi lebih buruk,” imbuhnya.

Panas ekstrem adalah, “Ketidaknormalan baru,” kata Guterres. “Tetapi, kabar baiknya adalah kita dapat menyelamatkan nyawa dan membatasi dampaknya,” imbuh dia.

Bacaan Lainnya

Guterres juga menekankan bahwa panas ekstrem semakin menghancurkan ekonomi, memperlebar kesenjangan, melemahkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) PBB, dan menimbulkan korban jiwa.

Karena itu, kata Guterres, PBB meluncurkan tuntutan global dengan empat area fokus, yaitu merawat yang paling rentan, meningkatkan perlindungan bagi pekerja, meningkatkan ketahanan ekonomi dan masyarakat dengan menggunakan data dan sains.

Dia menegaskan jika saat ini yang menjadi fokus komunitas internasional adalah dampak panas ekstrem.

“Jangan lupa bahwa masih banyak lagi gejala krisis iklim yang menghancurkan: Badai yang semakin dahsyat, banjir, kekeringan, kebakaran hutan, naiknya permukaan air laut, dan masih banyak lagi,” kata Guterres.

Untuk mengatasi gejala-gejala tersebut, kata Guterrs, komunitas internasional perlu melawan penyakit. “Penyakit itu adalah kegilaan yang membakar satu-satunya rumah kita. Penyakit itu adalah kecanduan bahan bakar fosil. Penyakit itu adalah tidak adanya tindakan untuk mengatasi perubahan iklim,” imbuhnya.

Menurut Guterres, G20 harus mengalihkan subsidi bahan bakar fosil ke energi terbarukan dan mendukung negara-negara dan masyarakat yang rentan. “Pesannya jelas: Panas sedang terjadi. Panas ekstrem berdampak ekstrem pada manusia dan planet ini. Dunia harus bangkit menghadapi tantangan kenaikan suhu,” tambahnya.*

Pos terkait