Lelakon para cendekiawan yang menggadaikan kebenaran direkam dengan apik oleh pergulatan kaum Sofis, yang eksis di Yunani pada masa Sebelum Masehi (SM). Kaum penjual ilmu dan kepintaran yang punya prinsip pendidikan bukan untuk mencari kebenaran, tetapi mencari kemenangan.
Menurut Dr. Fahruddin Faiz dalam buku Menghilang, Menemukan Diri Sejati (2022), Istilah “Sofis” berasal dari akar kata “sofia”, yang berarti “kebijaksanaan”. Istilah ini bersinggungan dengan kata “filsafat”, yang berasal dari dua kata, “filia” dan “sofia”, yang berarti “cinta” dan “kebijaksanaan”.
Istilah Sofis ini, menurut Fahruddin, bermakna konotatif. “Orang-orang Sofis adalah suatu kaum yang memanfaatkan ilmunya bukan untuk mencari kebenaran, tetapi untuk mencari uang. Ini seperti sebagian dai zaman sekarang, yang menetapkan tarif jika diundang berceramah,” tulis Fahruddin.
Paling tidak, menurut Fahruddin, ada tiga hal yang mendukung kemunculan orang-orang orang pintar tetapi menjual ilmu tersebut.
Yang pertama, perkembangan Athena waktu itu. Athena—yang kini kita kenal sebagai Ibukota Yunani—dikenal sebagai negara demokrasi pertama. Demokrasi yang diterapkan di sana bukanlah demokrasi perwakilan, akan tetapi demokrasi langsung. Setiap orang bebas menyampaikan suaranya. Setiap suara boleh diucapkan dan boleh didengarkan.
“Karena model partisipasi di Athena bersifat langsung, maka semua orang merasa perlu menjadi pintar agar bisa menyuarakan aspirasi mereka. Karena semua orang merasa butuh pintar, mereka butuh guru yang bisa mengajari mereka cara berpikir yang benar, cara berdebat, atau cara memenangkan diskusi,” terang Fahruddin, yang merupakan dosen filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.
Maka dari itu muncul kebutuhan terhadap pendidikan—inilah faktor kedua yang menjadi penyebab munculnya orang-orang Sofis. Ketika rakyat Athena butuh pendidik yang mau mengajar mereka, orang-orang Sofis pun muncul.
Namun, kemunculan orang-orang Sofis di tengah masyarakat yang butuh pendidikan itu bukan semata-mata untuk mengajarkan kebenaran, tetapi untuk mencari uang. Mereka mengajar agar menjadi kaya. Maka dari itulah, kebanyakan murid orang-orang Sofis berasal dari kalangan aristokrat dan bangsawan. Itulah yang dikritik habis-habisan oleh Socrates dan kawan-kawannya.
Faktor ketiga adalah, orang-orang Sofis muncul karena adanya persentuhan antara Athena dengan budaya lain. Ketika suatu negara semakin terbuka terhadap kebudayaan lain, maka kepintaran semakin dibutuhkan di sana. Kebutuhan terhadap pengetahuan semakin meningkat.
“Fenomena seperti ini juga berlangsung pada umat Islam. Lahirnya ilmu kalam dalam Islam itu juga setelah Islam bersentuhan dengan budaya lain. Sebelum berjumpa dengan kebudayaan lain, orang Islam merasa tidak butuh ilmu itu. Yang penting beriman, percaya pada satu Tuhan, itu sudah cukup. Tetapi, cara pandang itu langsung berubah ketika Islam bertemu kebudayaan lain, seperti kebudayaan Kristen dan Zoroaster,” papar Fahruddin.





