Pada suatu ketika Protagoras mengangkat seorang murid. Si murid diajari ilmu hukum dan cara berdebat. Selama proses belajar, murid tersebut tidak dipungut biaya, tetapi dia harus membayar nanti jika dia berhasil memenangkan kasus pertamanya.
Tetapi muridnya itu ternyata curang. Setelah lulus dia tidak juga mencari kasus. Otomatis dia tidak pernah memenangkan perkara. Protagoras merasa jengkel dan melaporkan muridnya itu ke pengadilan.
Ketika di pengadilan, Protagoras berkata pada muridnya tersebut, “Apa pun yang terjadi di pengadilan ini, kamu harus membayarku. Jika di pengadilan ini aku kalah, berarti kamu memenangkan kasus pertamamu. Berarti kamu harus membayar aku. Tetapi, kalau aku menang, berarti tuntutanku bahwa kamu harus membayarku dikabulkan pengadilan. Maka kamu harus membayarku juga”.
Tetapi muridnya tidak kalah pintar. “Apa pun yang terjadi di pengadilan ini,” katanya, “saya tidak akan membayar Anda. Karena, kalau saya kalah, berarti saya tidak menang di kasus pertama saya. Maka saya tidak akan membayar Anda. Kalau saya menang, perarti gugatan Anda kalah. Berarti saya juga tidak harus membayar”. Lalu, siapakah yang benar? Itulah logika orang-orang Sofis.
“Jika hanya main logika saja, kita akan bertemu banyak jebakan. Misalnya logika seperti ini: seorang dosen mengatakan bahwa semua orang di dalam kelasnya berbohong. Karena dia juga berada di dalam kelas, maka dia juga bohong. Karena dia juga bohong, maka apa yang dikatakannya tentang seisi kelas itu berbohong juga bohong. Maka, semua yang ada di dalam kelas itu jujur, termasuk dirinya. Tetapi, jika ternyata dia jujur, berarti apa yang dia omongkan sebelumnya—yang menyebut seisi kelas itu berbohong—benar. Lalu, mana yang benar? Seperti itulah logika. Dalam ilmu logika disebut tautologi—hanya berputar-putar di level akal,” pungkas Fahruddin.■





