Patung Dirgantara Pancoran: Simbol Optimisme yang Terabaikan

Patung perunggu seberat 11, tinggi 11 Meter, dan kaki mencapai 27 Meter ini dirancang oleh Edhi Sunarso (1932-2016), maestro patung Indonesia kepercayaan Sukarno. Dia membangun patung ini mulai 1964 hingga 1966. Biaya pembangunannya mendapat sokongan dari Keluarga Arca Yogyakarta. Selain Patung Pancoran, Edhi Sunarso jugamengkreasi patung-patung besar lain di Jakarta, seperti Patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat; dan Patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.

Proses pengecoran patung ini dilaksanakan oleh Pengecoran Patung Perunggu Artistik Dekoratif Yogyakarta pimpinan I Gardono. Pengerjaannya sebenarnya selesai tahun 1964 di Yogyakarta, namun terhambat oleh peristiwa Gerakan Satu Oktober atau Gestok di tahun 1965, sehingga baru dapat diselesaikan pada akhir tahun 1966. Proses pemasangannya di lokasinya yang sekarang pun dilakukan setelah itu, dan baru rampung tahun 1970. Proses pembangunannya dilakukan oleh PN Hutama Karya, dengan Ir. Sutami sebagai arsitek pelaksana.

Bacaan Lainnya

Pose patung ini diperagakan oleh Sukarno, sementara wajah patung mengambil rupa Edhi Sunarso, sang perancang. Sukarno mengawasi langsung proses pembuatannya Patung Pancoran.

Bentuk tangan patung, yang seperti hendak terbang, mengandung nilai filosofi agar anak muda memiliki cita-cita setinggi langit. “Idenya (terinspirasi) dari Yuri Gagarin, kosmonot Rusia yang pertama kali ke luar angkasa. Bung Karno dengan pembangunan patung itu ingin menyampaikan pesan agar anak muda mempunyai kemampuan seperti Yuri Gagarin,” ucap sejarawan LIPI, Asvi Warman Adam.

Pembangunan patung ini bukannya tanpa kritik. Dalam Sidang Paripurna Kabinet Dwikora di Bogor, 15 Januari 1966, Sukarno menjawab pro kontra pembangunan tugu ini. Sukarno menyebutnya sebagai makanan semangat atau jiwa agar Indonesia menjadi bangsa yang besar dan bisa menunjukkan diri di dunia internasional.

Edhi Sunarso sempat kehabisan dana untuk instalasi patung ketika Sukarno sakit. Alhasil, kekurangan biayanya ditanggungnya sendiri. Sukarno bahkan sampai menjual mobilnya seharga Rp1,7 juta kepada Edhi Sunarso untuk membiayai proses produksinya. Biaya proyek  patung ini terbayar sekitar Rp5 juta oleh Sukarno—dari total kebutuhandana Rp12 juta. Sisanya ditanggung Edhi Sunarso. Pemerintah Indonesia sampai kini pun tak pernah mengganti biaya instalasi tersebut.

Patung Dirgantara ditempatkan di posisinya yang sekarang menggunakan derek tarikan tangan, terbagi dalam beberapa bagian, di mana masing-masing bagian beratnya 1 ton.

Patung ini tak sempat diresmikan Sukarno. Ketika Edhi Sunarso sedang mengerjakan proses akhir instalasi, dia melihat iringan mobil jenazah Sukarno melintas dari atas patung. Dia langsung turun dan ikut rombongan ke Blitar, tempat jasad Sukarno disemayamkan.

(Wijdan | Diolah dari Berbagai Sumber)

Pos terkait