Eren Tasar, sejarawan Asia Tengah, dalam tulisannya berjudul Soviet and Moslem: The Institutionalization of Islam in Central Asia, 1943–1991, menyinggung keberadaan Sukarno di Samarkand. Menurut dia, Sukarno menuntut para pembesar Uni Soviet agar diizinkan mengunjungi makam Imam Bukhari saat kunjungannya tahun 1950-an.
Beberapa sumber menyebut bahwa Sukarno bersedia mengunjungi Soviet kala itu, dengan syarat diizinkan juga untuk mengunjungi makam salah satu tokoh perawi hadits, Imam Bukhari. Namun, saat itu keberadaan makam Imam Bukhari belum diketahui, bahkan oleh warga Samarkand sendiri.

Awalnya makam itu tidak ada batu nisannya. Para pejabat komunis Uzbekistan, atas perintah pejabat tinggi Uni Soviet, akhirnya memugarnya dengan sederhana. Para pekerja dikerahkan membangun jalan aspal yang rencananya akan dilalui Sukarno menuju makam Sang Imam. Meski demikian, pemerintah Uni Soviet tidak mempublikasikan keberadaan makam ini pasca kunjungan Sukarno.
Setelah Sukarno mengunjungi makam tersebut, banyak rakyat Uzbekistan ikutan berziarah di makam imam besar di tanah Samarkand tersebut. Di era Uni Soviet yang berideologi komunis, hal-hal yang berbau keagamaan dilarang keras. Oleh karenanya, rakyat Uzbekistan takut untuk mempraktikkan ritual-ritual agama secara bebas dan terbuka. Namun, Sukarno tidak mau tunduk pada aturan Uni Soviet itu. Keinginannya untuk berziarah di makam Imam Bukhari sebagai pengecualian.
Sukarno sudah mengenal ketokohan dan jasa-jasa Imam Bukhari. Seperti umumnya Muslim lainnya, dia mempelajari sejarah Imam Bukhari dan hadits-hadits yang dikumpulkannya. Saat menjalani masa pembuangan di Bengkulu oleh pemerintah kolonial Belanda, Sukarno juga giat mempelajari agama Islam, termasuk tokoh-tokoh besarnya seperti Imam Bukhari.





