Sukarno dan Khrushchev (3): Makam Imam Bukhari, Jejak Sukarno yang Masih Tertapak di Uzbekistan  

Eren Tasar, sejarawan Asia Tengah, dalam tulisannya berjudul Soviet and Moslem: The Institutionalization of Islam in Central Asia, 1943–1991, menyinggung keberadaan Sukarno di Samarkand. Menurut dia, Sukarno menuntut para pembesar Uni Soviet agar diizinkan mengunjungi makam Imam Bukhari saat kunjungannya tahun 1950-an.

Beberapa sum­ber menyebut bahwa Sukarno bersedia mengunjungi Soviet kala itu, dengan syarat diizinkan juga untuk mengunjungi makam salah satu tokoh perawi hadits, Imam Bukhari. Namun, saat itu keberadaan makam Imam Bukhari belum diketahui, bahkan oleh warga Samarkand sendiri.

Kunjungan Sukarno ke Uzbekistan, 1956. (Dok. Dunia dalam Genggaman Bung Karno 2)

Awalnya makam itu tidak ada batu nisannya. Para pejabat komunis Uzbekistan, atas perintah pejabat tinggi Uni Soviet, akhirnya memugarnya dengan sederhana. Para pekerja dikerahkan membangun jalan aspal yang rencananya akan dilalui Sukarno menuju makam Sang Imam. Meski demikian, pemerintah Uni Soviet tidak mempublikasikan keberadaan makam ini pasca kunjungan Sukarno.

Bacaan Lainnya

Setelah Sukarno mengunjungi makam tersebut, banyak rakyat Uzbekistan ikutan berziarah di makam imam besar di tanah Samarkand tersebut. Di era Uni Soviet yang beri­deologi komunis, hal-hal yang berbau keagamaan dilarang ke­ras. Oleh karenanya, rakyat Uzbekistan takut untuk memprak­tikkan ritual-ritual agama secara bebas dan terbuka. Namun, Sukarno tidak mau tunduk pada aturan Uni Soviet itu. Keinginannya untuk berziarah di makam Imam Bukhari seba­gai pengecualian.

Sukarno sudah mengenal ketokohan dan jasa-jasa Imam Bukhari. Seperti umumnya Muslim lainnya, dia mempelajari sejarah Imam Bukhari dan hadits-hadits yang dikumpulkannya. Saat menjalani masa pembuangan di Bengkulu oleh pemerintah kolonial Belanda, Sukarno juga giat mempelajari agama Islam, termasuk tokoh-tokoh besarnya seperti Imam Bukhari.

Pos terkait