Makam Imam Bukhari baru dipugar pada tahun 1961, ketika Nikita Khsurshcev menjabat sebagai Perdana Menteri Uni Soviet. Sebagaimana dilansir dari Madain Project dalam artikelnya berjudul Tomb of Imam al-Bukhari, Sukarno kembali berkunjung ke Uzbekistan pada tahun 1961. Ketika itu dia meminta izin kepada Nikita Khrushchev untuk mengunjungi pusara Imam Bukhari. Keinginan Sukarno dikabulkan Khruschev.
Kompleks makam Imam Bukhari berdiri megah di Samarkand, Uzbekistan. Dikelilingi taman yang luas, bangunan inti dikelilingi oleh bangunan yang di dalamnya terdapat masjid sekaligus makam Sang Imam yang dibungkus sebuah bangunan cantik. Setiap pengunjung tidak dapat memasuki bangunan di bawah tanah tersebut. Umumnya para peziarah hanya diizinkan berziarah di lantai atas bangunan.

Di balik kemudahan para peziarah dalam komplek makam Imam Bukharitak bisa dilepaskan dari peran Bung Karno. Setiap warga Indonesia, konon, diizinkan untuk berziarah di makam tersebut, karena rakyat Uzbekistan masih ingat dan berterima kasih atas jasa baik Sukarno yang telah ‘menemukan’ dan berziarah di makam Imam Bukhari pada tahun 1956.
“”Dulu Imam di Uzbekistan bilang (ke saya) dulu enggak terurus makam ini. Seandainya bukan Bung Karno, kita enggak tahu makam Imam Bukhari hilang. Pernah ada Bung Karno yang pernah selamatkan makam Imam Bukhari,” kata Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof. Nasaruddin Umar ketika berkunjung ke makam Imam Bukhari.
Maka dari itu Uzbekistan masih menghargai Sukarno hingga kini. Hingga mereka pun bersedia membangun museum khusus untuk mengenangnya.(…bersambung…)
(Wijdan | Diolah dari Berbagai Sumber)





