Kehadiran budaya-agama lain, kata Fahruddin, juga membawa keyakinan yang mereka anggap benar, membawa tantangan sendiri bagi Islam untuk membuktikan siapa yang paling benar di antara mereka. Bersenggolan dengan budaya lain membuat orang Islam tersadar bahwa mereka perlu merumuskan konsep teologi. Sebab, jika teologi Islam dianggap tidak masuk akal, dikhawatirkan nantinya tidak ada orang yang mau menerima Islam. Dari situlah kemudian lahir ilmu kalam.
Begitu pula yang terjadi di Yunani, jauh hari sebelum Islam turun ke bumi. Orang-orang di sana membutuhkan orang pintar yang bisa mengajarkan kebenaran kepada mereka ketika banyak budaya lain—yang membawa kebenaran masing-masing—berdatangan di sana. Bahkan, beberapa orang Sofis bukan orang asli Yunani.
Keterbukaan demokrasi, kebutuhan terhadap pendidikan, dan persentuhan dengan budaya lain di Yunani melahirkan banyak orang pintar—yang mana orang-orang pintar itu pada akhirnya membawa motivasi yang berbeda-beda dalam memanfaatkan kepintarannya. Orang Sofis, kendati kemunculannya membawa kesan negatif—menjual ilmu—tetapi mereka punya peran yang sangat penting dalam perkembangan dunia intelektual di Yunani.
Kapitalisasi Pendidikan
“Tujuan kaum Sofis mengajarkan ilmu bukan untuk mencari kebenaran, tetapi mencari kemenangan. Mereka mengajarkan retorika. Bagi mereka, kebenaran itu tidak penting. Yang penting adalah seolah-olah benar dan diakui orang lain sebagai kebenaran,” kata Fahruddin Faiz.
Bagi orang Sofis, Fahruddin melanjutkan, kebenaran itu tidak penting. Yang penting mereka terlihat benar dan pintar. Dengan mengampanyekan kesan tersebut, mereka berharap akan lebih banyak orangtua yang menyekolahkan anak-anaknya di sekolah mereka. Dengan begitu, mereka bisa mendapatkan uang.
Orang Sofis mengajarkan wisdom dan virtue—kebijaksanaan dan kebajikan—dan mereka meminta bayaran untuk itu. “Di hari ini, apa yang dilakukan oleh orang Sofis itu kita sebut sebagai sebagai ‘kapitalisasi pendidikan’,” jelas Fahruddin.
Fenomena yang sudah dipraktikkan oleh kaum Sofis ribuan tahun lalu, kata Fahruddin, hidup kembali di zaman sekarang. Yang lebih menonjol adalah administrasi bayar-membayar daripada ilmunya. Bahkan, dalam beberapa kasus, ada beberapa kampus abal-abal yang tidak peduli mahasiswanya kuliah atau tidak, yang penting mereka membayar.
Seperti itulah ciri-ciri orang Sofis. Mereka mempromosikan diri mereka dengan mengatakan bahwa dunia butuh orang-orang seperti mereka—orang-orang yang pandai secara kontekstual.
“Dunia butuh belajar logika dan retorika, dan kamilah yang bisa mengajarkannya,” seperti itulah kira-kira promosi mereka. “Kalau ingin punya kekuasaan politik, status sosial tinggi, dan punya pengaruh, maka tunjukkanlah kepintaranmu. Untuk itu, belajarlah kepada kami.”
Pada kenyataannya, Fahruddin melanjutkan, murid-murid orang Sofis memang berhasil menjadi orang pintar dan berpengaruh. Bahkan, saking pintarnya, beberapa murid pada akhirnya berhasil mengalahkan gurunya. Ini seperti cerita antara Protagoras dan muridnya.





