Virus Hanta Mengintai Indonesia, Ancaman Sunyi yang Kerap Tak Terlihat

Ilustrasi. Hantavirus umumnya menular dari lingkungan yang terkontaminasi urine, kotoran, atau air liur tikus, terutama ketika partikel debu terhirup manusia. AI GENERATE
Menular Lewat Debu, Bukan Gigitan

Berbeda dengan penyakit yang menyebar melalui gigitan nyamuk atau kontak langsung antarmanusia, virus hanta terutama menular lewat udara yang tercemar partikel kotoran tikus yang mengering. Debu yang tampak biasa bisa menjadi medium penyebaran virus.

Seseorang bahkan tidak perlu digigit tikus untuk tertular. Membersihkan gudang, menyapu rumah kosong, merapikan loteng, atau bekerja di area dengan jejak infestasi tikus tanpa pelindung pernapasan sudah cukup membuka risiko infeksi.

Inilah yang membuat penularan hantavirus kerap tidak disadari: sumber bahayanya dekat, biasa, dan sering dianggap sepele.

Bacaan Lainnya
Gejalanya Mirip Penyakit Umum

Gejala awal infeksi virus hanta sangat umum: demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, mual, muntah, dan tubuh terasa lemah. Karena gejalanya tidak spesifik, banyak kasus kemungkinan salah diagnosis.

Fenomena ini menciptakan apa yang dikenal sebagai iceberg phenomenon—kasus yang tercatat hanya puncak gunung es, sementara jumlah infeksi sebenarnya bisa jauh lebih besar.

Secara klinis, hantavirus memiliki dua manifestasi utama:

Pertama, Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) — menyerang pembuluh darah dan ginjal, menyebabkan perdarahan, gangguan sirkulasi, hingga gagal ginjal akut.

Kedua, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) — menyerang paru-paru, memicu sesak napas akut, edema paru, dan gagal napas yang mengancam nyawa.

Pada beberapa tipe hantavirus—terutama kasus berat HPS—angka kematian dapat mencapai 50 persen.

Indonesia Sangat Rawan

Di Indonesia, jenis yang paling banyak ditemukan adalah Seoul virus, yang dibawa tikus rumah seperti Rattus rattus dan Rattus norvegicus. Karena spesies ini hidup berdampingan dengan manusia di rumah, pasar, selokan, gudang, hingga kawasan padat permukiman, potensi penularan menjadi sangat tinggi.

Penelitian juga mendeteksi hantavirus di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, dan Denpasar. Urbanisasi cepat, sanitasi buruk, serta pengelolaan sampah yang lemah menjadikan kota-kota besar habitat ideal bagi tikus pembawa virus.

Perubahan iklim memperparah situasi. Curah hujan yang berubah, suhu yang meningkat, serta terganggunya ekosistem memengaruhi populasi rodensia dan memperluas persebaran reservoir virus.

Pos terkait