Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat pernyataan mengejutkan terkait konflik Israel-Palestina. Ia menegaskan tidak akan mengizinkan Israel mencaplok Tepi Barat yang diduduki.
____________
“Saya tidak akan mengizinkan Israel mencaplok Tepi Barat. Tidak. Itu tidak akan terjadi,” tegas Trump saat berbicara kepada wartawan, Kamis, 25 September 2025, menjelang kedatangan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di New York untuk berpidato di Majelis Umum PBB, Jumat, 26 September 2025.
Meski tegas di depan publik, Trump seperti dilansir Al Jazeera, tidak merinci langkah apa yang akan ditempuh untuk menghentikan ambisi Israel. Hal itu memunculkan keraguan dari para analis. “Kita tahu kata-kata Trump bernilai sekaligus berisiko. Pertanyaannya, apakah dia benar-benar akan memastikan Israel tidak mencaplok Tepi Barat?” ujar Mouin Rabbani, peneliti di Pusat Studi Konflik dan Kemanusiaan, Qatar.
Pengamat lain, Mohamad Elmasry dari Doha Institute, menilai pernyataan Trump harus disikapi hati-hati. Menurutnya, Amerika kerap terlihat menegur Israel tetapi akhirnya membiarkan sekutunya itu bertindak semaunya. “Faktanya, Israel sudah menguasai Tepi Barat secara de facto. Jadi isu aneksasi ini agak akademis,” ujarnya.
Sementara itu, di Israel, wacana aneksasi terus menguat. Juli lalu, Knesset atau parlemen Israel menggelar pemungutan suara 71–13 mendukung mosi tidak mengikat untuk mencaplok Tepi Barat. Menteri Keuangan Bezalel Smotrich bahkan meluncurkan rencana pembangunan ribuan rumah di kawasan permukiman ilegal E1, yang disebut akan “mengubur gagasan negara Palestina”.
Sikap Trump ini berpotensi membuat hubungannya dengan pemerintahan sayap kanan Netanyahu kian panas. Partai-partai koalisi pendukung Netanyahu selama ini menjadikan aneksasi sebagai agenda politik utama dan berulang kali mengancam akan menggulingkan pemerintah jika ada kesepakatan yang merugikan mereka.
Padahal, Mahkamah Internasional (ICJ) pada Juli 2024 sudah menegaskan bahwa permukiman Israel di Tepi Barat ilegal dan harus dihentikan. Namun, di lapangan, Israel tetap memperluas jaringan permukiman yang membelah wilayah Palestina dan terus mengandalkan dukungan penuh dari AS dalam kampanye militernya di Gaza, Tepi Barat, Lebanon, dan Suriah.***




