Safa menjelaskan bahwa melalui penelitian yang telah dilakukan, Tim PKM RSH Cyber Begging menemukan adanya pola perilaku berupa keterpaksaan, mencari keuntungan, dan pengulangan yang terjadi antara pengemis online dan pemberi gift. “Apabila terus dibiarkan, pola-pola ini akan menyebabkan banyak dampak negatif, salah satunya adalah munculnya siklus kemiskinan. Oleh karena itu, perilaku tolong menolong terhadap pengemis online ini harus segera dicari solusi dan jalan keluarnya,” ujar Safa.
Tim Cyber Begging yang dibimbing Dr. Aprilia Firmonasari, M.Hum.,D.E.A. dengan anggota Safa Nur’aini Yunisa Wijayanti, Carissa Andis Wiyatno Putri, Aqilurrachman Abdul Charitz, Dyahayu Sekar Anggraini, dan R. A. Haru Veda Gautama telah menyusun policy brief yang akan diusulkan kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo) dan Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos).
Beberapa temuan dari riset ini adalah:
- Alasan Pemberian Gift: Banyak orang memberikan gift kepada pengemis online karena mereka peduli dan merasakan apa yang dirasakan oleh pengemis online. Namun, dampak dari hadiah yang diberikan tidak selalu meringankan masalah para pengemis online. Pola perilaku seperti keterpaksaan, mencari keuntungan, dan pengulangan terjadi antara pengemis online dan pemberi gift.
- Dampak Bumerang: Perilaku tolong-menolong di media sosial yang digadang-gadang selalu bernilai positif ternyata dapat mendorong pengemis dan pemberi gift untuk melakukan hal yang sama secara berulang. Ini dapat menciptakan siklus kemiskinan yang sulit diputus.◼︎