Singgih dan Fenomena Pengemis Online yang Tak Kunjung Ditindak

Pengemis online. Ilustrasi Canva

Kitabisa menyatakan bahwa memang benar ibu dan anak Singgih dalam kondisi sakit sehingga memerlukan biaya pengobatan. Sebagian donasi yang terkumpul melalui Kitabisa telah digunakan untuk pengobatan dan biaya penunjang pengobatan seperti pembelian susu, mainan untuk terapi anak, transportasi dari rumah sakit, serta pembayaran kontrakan untuk Singgih dan keluarganya.

“Singgih mengaku sisa sebagian lain penggunaan dana yang sudah dicairkan dari Kitabisa, tidak bisa dipertanggungjawabkan karena tidak bisa memberikan bukti penggunaan donasi, dengan alasan nota terbuang, dan sebagian donasi digunakan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari,” tutup admin @Kitabisacom

Singgih Sahara melalui akun media sosial X juga mengklarifikasi tudingan miring dari netizen. “Halo semuanya, mohon maaf atas keributan yang terjadi. Berikut klarifikasi, permohonan maaf, dan komitmen saya. Terima kasih buat beberapa pihak yg sudah bersedia membantu. Besok juga ada beberapa orang yang akan berkunjung kerumah. sudah whatssap saya. Terima kasih,” demikian klarifikasi Singgih Sahara diunggah pada Selasa (19/3/2024) malam. 

Pengemis Online Perlu Ditindak 

Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Riset Sosial Humaniora (RSH) Cyber Begging dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pernah melakukan penelitian pengemis online pada November 2023. Melansir laman resmi UGM, alasan terbanyak mengapa banyak orang memberikan gift kepada pengemis online adalah karena pemberi gift peduli dan ikut merasakan apa yang dirasakan dan mempertimbangkan kesejahteraan pengemis online.

“Mereka juga mengalami perasaan tidak nyaman saat menyaksikan pengalaman negatif dari pengemis online. Alhasil, mereka memiliki keinginan untuk meringankan beban fisik atau psikologis pengemis online,” kata Ketua Tim PKM RSH Cyber Begging UGM,  Safa Nur’aini Yunisa Wijayanti dikutip Rabu (20/3/2024).

Meski tidak ada yang salah dari perilaku tolong-menolong, namun dampak dari hadiah yang diberikan tidak sepenuhnya meringankan masalah para pengemis online. Tim PKM RSH Cyber Begging menemukan adanya pola perilaku berupa keterpaksaan, mencari keuntungan, dan pengulangan yang terjadi antara pengemis online dan pemberi gift.

“Artinya, dengan memberikan gift kita belum tentu membantu pihak yang kita kasihani. Di sisi lain, kita malah menciptakan sebuah siklus kemiskinan yang akan semakin sulit untuk diputus. Oleh karena itu, yuk, kita harus bijak bersosial media. Perbuatan yang kita pikir baik, ternyata belum tentu baik juga untuk orang lain,” katanya.

Menurut Safa, timnya juga menemukan adanya dampak bumerang dari perilaku tolong menolong di medsos yang digadang-gadang menjadi sesuatu yang selalu bernilai positif ternyata dampak yang diberikan justru sebaliknya, mendorong pengemis dan pemberi gift melakukan hal yang sama secara berulang.

“Dalam konteks mengemis online, perilaku tolong menolong ini tidak selamanya baik, perilaku ini malah dapat memberikan stimulus kepada pengemis online untuk melakukan hal yang sama secara terus-menerus,” ujar Safa.