Setiap 4 Menit 1 Orang di Indonesia Meninggal Dunia karena Tuberkulosis

Tuberkulosis Indonesia
Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin P. Octavianus. - Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemkes
Lonjakan kasus tuberkulosis di Indonesia mendorong pemerintah menetapkannya sebagai darurat nasional, dengan dua orang terinfeksi tiap menit dan satu meninggal tiap empat menit.

Kasus tuberkulosis (TB) di Indonesia terus mengkhawatirkan. Setiap menit dua orang terinfeksi dan setiap empat menit satu orang meninggal dunia, sehingga pemerintah mempercepat langkah eliminasi sebagai darurat nasional.

Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin P. Octavianus, menegaskan bahwa TB masih menjadi tantangan besar yang tidak hanya terkait aspek kesehatan, tetapi juga sosial, ekonomi, gizi, dan lingkungan.

“Tuberkulosis masih menjadi tantangan besar. Ini bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan faktor sosial, ekonomi, gizi, dan lingkungan,” ujarnya, dikutip dari laman Kementerian Kesehatan, Senin (13/4/2026).

Indonesia mencatat lebih dari satu juta kasus TB setiap tahun, menjadikannya sebagai salah satu negara dengan beban TB tertinggi di dunia.

Deteksi Dini Dipercepat

Pemerintah mendorong percepatan penanganan melalui deteksi dini secara masif, salah satunya lewat Program Cek Kesehatan Gratis yang ditargetkan menjangkau 130 juta masyarakat pada 2026.

Selain itu, pemerintah memperkuat pelacakan kontak erat, pemberian terapi pencegahan TB, serta peningkatan peran masyarakat dan kader kesehatan.

“Tidak ada waktu untuk menunda. Setiap kasus yang ditemukan dan diobati adalah langkah menyelamatkan nyawa,” tegas Benjamin.

Ancaman Global dan Tantangan Berat

Perwakilan WHO Indonesia, dr. Setiawan Jati Laksono, menyebut Indonesia menyumbang sekitar 10 persen dari total kasus TB dunia.

Data menunjukkan, pada 2024 terdapat sekitar 118.000 kematian akibat TB pada orang tanpa HIV dan 8.100 kematian pada orang dengan HIV di Indonesia.

“TB masih menjadi ancaman global. Ada kemajuan, tetapi belum cukup cepat. Komitmen politik dan pendanaan nasional sangat menentukan,” ujarnya.

WHO juga menyoroti sejumlah tantangan, seperti kasus yang belum terdiagnosis, TB resistan obat, serta faktor risiko seperti malnutrisi, diabetes, dan kebiasaan merokok.

Meski demikian, harapan tetap terbuka melalui inovasi. Saat ini, lebih dari 100 alat diagnostik, 29 obat TB, dan 18 kandidat vaksin tengah dikembangkan secara global.

“Ini saatnya bertindak sekarang,” tegasnya. ***