Ketiga, Enang mengkritik sumber utama kisah Perang Bubat: Kitab Pararaton dan Carita Parahyangan. Menurutnya, Pararaton ditulis tahun 1535, atau 178 tahun setelah peristiwa yang dikisahkan. “Masa itu, Nusantara sudah dikuasai Portugis. Fakta ini harus dikritisi agar logika sejarah tidak ngawur,” tegasnya.
Sementara Kitab Nagarakretagama yang ditulis pada 1365—delapan tahun setelah Bubat—justru tidak mencatat peristiwa tersebut sama sekali. “Kalau kitab ini isinya dipercaya, maka Perang Bubat itu fiksi karena tidak tersurat maupun tersirat kisahnya,” ujar Enang yang juga menulis Raden Pamanah Rasa: Kemaharajaan Nusantara yang Tak Terungkap.
Keempat, ia menyoroti kemungkinan Perang Bubat sebagai konstruksi untuk membersihkan nama Gajah Mada. Enang merujuk tulisan sejarawan Sunda, Uu Rukmana, di Pikiran Rakyat yang menyebut “penghilangan” sejarah Bubat sebagai upaya mencuci dosa Gajah Mada.
“Pertanyaannya, sebesar apa dosa Gajah Mada untuk Nusantara sehingga perlu ada upaya sistematis menghilangkannya?” tanya Enang.
Ia menegaskan bahwa pandangannya adalah opini terbuka untuk diperdebatkan, apalagi jika dikaitkan dengan status Parahyang dalam Kerajaan Sunda Purba.
“Ini murni opini saya. Bisa diperdebatkan,” tutupnya.***





