Kepengurusan PBNU 2026-2031 diwarnai kiprah gemilang para alumni MANPK. Dari Prof Asrorun Niam hingga Gus Awis, kader pesantren negeri ini membuktikan kapasitasnya sebagai ulama yang siap merespons dinamika keagamaan dan kebangsaan.
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi mengukuhkan nakhoda baru untuk masa khidmah 2026–2031. Lewat Surat Keputusan PBNU Nomor: 2/PB.01/A.II.01.01/99/09/2026 tertanggal 30 September 2026, wajah-wajah segar berpadu dengan tokoh senior untuk memimpin organisasi Islam terbesar ini.
Menariknya, jika kita membedah komposisi kepengurusan tersebut, tersembul satu benang merah yang istimewa: hadirnya barisan alumni Madrasah Aliyah Negeri Program Khusus (MANPK) yang menempati pos-pos strategis.
Kehadiran mereka di pucuk pimpinan jam’iyyah bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah buah manis dari sebuah proyek peradaban yang ditanam puluhan tahun silam, yang kini mekar dan memberikan dedikasi tertingginya untuk umat dan bangsa.
Jejak Sejarah MANPK: Merawat Visi Tafaqquh Fiddin
Membincang MANPK memaksa kita memutar waktu ke tahun 1987. Saat itu, Menteri Agama Munawir Sadzali menggagas sebuah proyek prestisius bertajuk Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK), yang kelak bermetamorfosis menjadi MANPK.
Kegelisahan Munawir kala itu sederhana namun mendasar: Indonesia membutuhkan kader ulama yang tidak hanya menguasai kitab kuning, tetapi juga fasih membaca realitas zaman. Ia ingin mencetak kaum white collar job di bidang keagamaan.
Sebagai institusi pendidikan formal non-pesantren, MANPK menerapkan sistem asrama layaknya pesantren negeri. Kurikulumnya diracik padat; 70 persen porsi pelajaran agama berpadu dengan penguasaan intensif bahasa Arab dan Inggris.
Para siswa tak hanya dituntut tajam dalam tafaqquh fiddin (pendalaman ilmu agama), tetapi juga dilatih menguasai kecakapan bertahan hidup abad modern, mulai dari berpikir kritis, komunikasi efektif, hingga ketangkasan beradaptasi.
Lembaga yang awalnya dibuka di lima kota—lalu berekspansi ke berbagai daerah—ini menjelma menjadi miniatur Islam Indonesia. Siswanya datang dari lintas provinsi membawa ragam mazhab dan pemikiran, berbaur dalam satu kawah candradimuka.
Kini, puluhan tahun setelah didirikan, ‘pesantren negeri’ ini telah menetaskan ribuan intelektual tangguh. Mereka menyebar di berbagai matra kehidupan, dan belakangan, mengambil peran krusial dalam mengendalikan kemudi Nahdlatul Ulama.
Menakhodai Kemudi Syuriyah dan Mustasyar PBNU
Jejak gemilang alumni MANPK di PBNU 2026-2031 paling benderang terlihat di jajaran Syuriyah dan Mustasyar, badan tertinggi yang bertindak sebagai pemegang kebijakan dan pengarah jam’iyyah.
Prof. Dr. KH Asrorun Niam Sholeh
Sosok ulama muda berpandangan moderat (tawasuth) ini kini resmi mengemban amanah sebagai Rais Syuriyah PBNU, naik kelas setelah periode sebelumnya menjabat Katib Syuriyah.
Kiprah Prof Niam di NU terukir lewat proses berjenjang, bermula dari Ketua Umum IPNU, Sekjen Majelis Alumni IPNU, hingga puncaknya menakhodai sidang pada momentum krusial Muktamar ke-34 di Lampung dan Muktamar ke-35 di Jombang.
Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah yang berpusat di Depok ini merepresentasikan alumni MANPK yang matang dalam mengelola dinamika organisasi, selalu mengedepankan objektivitas, serta piawai memadukan ketajaman fatwa dengan kelembutan pendekatan keumatan.
Dr. KH M Afifuddin Dimyathi, Lc., MA. (Gus Awis)
Lulusan MANPK Jember angkatan 1997 ini turut melengkapi jajaran Rais Syuriyah PBNU. Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Jombang ini dikenal sebagai muallif (pengarang) kitab-kitab berbahasa Arab tingkat internasional yang karyanya rutin diterbitkan di Mesir.
Produk intelektual terbarunya, Kunuzur Rohman fi Durusil Qur’an, mengupas relevansi pesan Al-Qur’an untuk menjawab problematika manusia modern. Gus Awis membuktikan bahwa santri MANPK mampu melahirkan literatur tafsir berkelas dunia yang membumi dan responsif terhadap isu ekonomi, sosial, dan politik kontemporer.
Prof. Dr. TGH. Masnun Tahir
Dari kawasan timur, alumni MANPK Mataram ini didaulat menduduki kursi kehormatan sebagai Mustasyar PBNU.
Kepakarannya tak perlu diragukan. Mantan Ketua PWNU Nusa Tenggara Barat yang juga menjabat sebagai Rektor UIN Mataram ini membawa perspektif akademik dan kearifan lokal yang kuat ke dalam struktur dewan penasihat PBNU.
Motor Penggerak Tanfidziyah di Jajaran Kesekjenan
Di ranah pelaksana harian atau Tanfidziyah, alumni MANPK juga mengambil peran sentral sebagai motor penggerak organisasi, menempati posisi strategis sebagai Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) mendampingi Sekjen H Gudfan Arif.
H. Idy Muzayyad, S.H.I, M.Si.
Alumni MANPK Surakarta ini merupakan praktisi dakwah dan komunikasi kawakan. Rekam jejaknya merentang panjang dari dunia media massa, pertelevisian, hingga filantropi Islam. Mantan aktivis kampus lulusan UIN Sunan Kalijaga dan Universitas Indonesia ini sekarang juga memegang amanah strategis di BAZNAS dan MUI Pusat.
Kepiawaiannya mengelola komunikasi publik dan pemberdayaan ekonomi umat menjadi aset berharga bagi PBNU.
KH Muhammad Nur Hayid
Mantan jurnalis ini melebarkan sayap alumni MANPK Jember ke dunia profesional dan kewirausahaan. Selain aktif di Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) serta memimpin Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI), ia juga menjabat sebagai Komisioner Badan Sertifikasi Profesi Republik Indonesia (BNSP RI).
Pengalaman diplomasinya sebagai Sekretaris Duta Besar RI untuk Aljazair memberikan wawasan global yang esensial bagi pengembangan program Tanfidziyah PBNU di kancah internasional.
H. Nur Hidayat
Satu lagi jebolan MANPK Jember (1995-1998) yang mempertahankan posisinya sebagai Wasekjen PBNU sejak periode sebelumnya. Lulusan pesantren Seblak Jombang ini memiliki kedekatan khusus dengan Rais Aam KH Miftachul Akhyar.
Ia kerap bertindak sebagai asisten ahli sekaligus juru bicara yang andal meredam dinamika organisasi lewat klarifikasi yang jernih dan terukur, menjadikannya jembatan komunikasi yang vital di tubuh PBNU.
Menjemput Masa Depan Jam’iyyah
Tampilnya deretan alumni MANPK di struktur elit PBNU 2026-2031 memberikan pesan historis yang teramat kuat. Mereka bukan sekadar nama yang mengisi bagan struktur, melainkan wujud nyata dari keberhasilan visi mencetak ulama intelek dan intelek yang ulama.
Ketika tantangan kebangsaan dan keagamaan hari ini berpusar pada isu radikalisme, krisis etika, hingga disrupsi digital, PBNU sejatinya telah memiliki amunisi terbaiknya.
Para santri didikan ‘pesantren negeri’ ini telah membuktikan bahwa paduan antara pemahaman kitab kuning yang mendalam, penguasaan bahasa global, dan kecakapan membaca realitas zaman adalah kunci membumikan ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin.
Khidmah mereka di PBNU hari ini, pada hakikatnya, adalah sebaik-baiknya refleksi dari revolusi mental yang nyata bagi masa depan peradaban Indonesia.***





