Puasa Setengah Hari untuk Melatih Anak-anak Hukumnya Boleh, Ada Dalilnya

Ilustrasi orang tua muslim mengajarkan anak-anak berpuasa. Puasa setengah hari untuk melatih anak-anak hukumnya boleh, ada dalilnya. | Canva

Perlu diketahui, syariat Islam membatasi usia orang yang wajib menjalankan puasa Ramadhan.

Imam al Bukhari di dalam kitab Shahih-nya menerangkan satu bab khusus, yaitu bab Shaumi as Shibyan  atau bab Puasa Anak-anak Kecil. Imam Bukhari mengutip atsar dari Sayyidina Umar r.a., di mana ia pernah berkata kepada orang yang mabuk di bulan Ramadan, ‘‘Celakalah kamu, padahal anak-anak kecil kami sudah berpuasa.’’ Lalu, Sayyidina Ali memukul lelaki pemabuk tersebut.

Bacaan Lainnya

Mengacu pada hadist tersebut, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari menjelaskan bahwa pendapat mayoritas ulama mengatakan, bagi orang yang belum balig tidak diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa.

Menurut sebagian ulama salaf—di antaranya Ibnu Sirrin dan az-Zuhri—anak-anak kecil juga diperintahkan menjalankan ibadah puasa dengan tujuan melatih apabila mereka mampu.Pendapat tersebut selaras dengan pendapat Imam Syafi’i.

Sedangkan para murid murid Imam Syafi’i membatasi pada usia anak kecil, yaitu 7 dan 10 tahun—sebagaimana anjuran melakukan shalat lima waktu. Sedangkan Imam Ishaq membatasi pada usia 12 tahun, dan Imam Ahmad—dalam salah satu riwayat—membatasi pada usia 10 tahun.

Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari dalam kitab Fathul Muin, bab shalat, menyampaikan pendapat Imam al Adzra’i, ia mengatakan bahwa bagi anak kecil yang mampu mengucapkan dua kalimat syahadat disunnahkan untuk diperintahkan mengerjakan shalat dan puasa, dengan tujuan memberi motivasi. Namun, tidak perlu ada pemukulan, supaya anak tersebut terbiasa melakukan kebaikan setelah balig.

Sementara itu,  pakar tafsir Al-Quran Indonesia M. Quraish Shihab, menyarankan agar melatih anak berpuasa tak perlu langsung dengan berpuasa seharian penuh. Para orang tua bisa memulai melatih anak dengan berpuasa setengah hari sesuai kemampuan sang anak, asalkan dilakukan dengan ikhlas. Dengan demikian, menurut Quraish, kenikmatan melakukan berpuasa itu muncul sejak dini dan dari sendiri, bukan dari orang lain atau benda dan uang yang dijanjikan.

Menurutnya, puasa Ramadhan itu sejatinya dilakukan dengan penuh keikhlasan, bukan untuk menuntut materi. Maka, ketika mengajarkan anak-anak berpuasa, yang ditekankan adalah keikhlasan. Jangan sampai ketika melatih berpuasa dengan iming-iming uang, karena itu akan menjadikan anak tidak ikhlas dalam berpuasa, karena mereka berpuasa karena ingin mendapatkan barang atau uang yang dijanjikan.

Penulis kitab tafsir Al-Misbah ini pernah bercerita bahwa dia sama sekali tidak pernah memberikan iming-iming hadiah kepada anak-anaknya ketika melatih berpuasa.◼︎

Pos terkait