Modal tersebut, menurut Totok, diperkuat dengan taktik kampanye Prabowo-Gibran, yang secara tidak langsung diduga melibatkan ‘cawe-cawe’ Jokowi. Dengan bekal tersebut, tak heran jika kini Prabowo-Gibran unggul di kisaran perolehan suara 58 persen.
“Bangunan dukungan yang disusun terlalu kuat menggunakan modal sosial yang sudah ada, ditambah dengan modal elektoral dari Jokowi, ditambah dengan manuver politik yang tajam. Makanya itu enggak goyah,” ujar Totok.
Mengenai suara Gerindra yang tak unggul di pileg, Totok menduga, ini berkaitan dengan faktor ideologi partai.
Menurut dia, secara teoritik, seseorang memilih partai politik karena alasan ideologi, kesamaan pandangan, atau lainnya. Bisa jadi, kata Totok, suara Gerindra tidak unggul lantaran secara ideologis sudah tak terlalu menarik.
“Mungkin karena secara ideologis dia sudah enggak terlalu menarik. Artinya, bukan dalam arti tidak menarik bagaimana, tetapi pemilih partai nasionalis yang lain, dia tidak terlalu tertarik untuk pindah partai. Dia lebih pada soal (pilihan) presidennya saja,” terang Totok.
Ketimbang Gerindra, Totok melanjutan, pemilih partai nasionalis lebih banyak menjatuhkan pilihan ke Partai Golkar. Ini terbukti dari naiknya perolehan suara partai beringin tersebut menurut hasil quick count. Bisa jadi ini karena kampanye yang dilakukan Golkar lebih masif dan efektif ketimbang Gerindra.
“Di antara partai partai nasionalis ini berpindahnya relatif menjadi lebih sulit karena faktor daya tarik sudah kurang. Bagi pemilih, tinggal daya tarik praktikal yang sifatnya rasional, ekonomis sehari-hari,” pungkas Totok.❒
FOTO: Prabowo Subianto seusai menggunakan hak pilihnya, Rabu (14/2/2024). (Dok. Antara)





