MUI Keluarkan Fatwa Salam Lintas Agama adalah Toleransi yang Keliru, Tepatkah?

Ilustrasi keanekaragaman agama di Indonesia. FOTO: Dok. Humas Polri

Menurut Muchlis M Hanafi (Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama), dikutip dari kemenag.go.id, apabila pendekatannya teologis esoteris memang pelik. Tetapi dengan pendekatan sosiologis, kita akan mudah menemukan jalan tengah. Dalam bersosial, terkadang harus ada mujaamalah (basa-basi) antara komponen masyarakat yang majemuk. Selain saling mendoa dan menebar damai, salam lintas agama yang diucap pejabat hanyalah sebuah tegur sapa dan bentuk penghormatan kepada semua pemeluk agama sebagai sesama warga bangsa yang telah berkoitmen untuk hidup rukun bersama.

Tidak sampai pada masalah keyakinan. Terlalu jauh bila dimaknai sebagai pengakuan dan permohonan doa kepada tuhan selain Allah yang menyalahi akidah. Sama halnya dengan ucapan selamat natal yang biasa diucap saat perayaan natal. Banyak ulama kontemporer, seperti Yusuf al-Qaradhawi, Nasr Farid Washil dan Ali Jum’ah, keduanya mantan Mufti Mesir, membolehkan ucapan selamat natal sebagai bentuk mujaamalah dan bagian dari ‘berlaku baik dan adil’ yang tidak terlarang dalam QS. Al-Mumtahanah: 8.

Bacaan Lainnya

Imbauan MUI Jatim sangat relevan bagi yang merasa imannya akan terganggu bila ia mengucap salam lintas agama. Demikian pula bagi masyarakat umum yang tidak ada kepentingannya dengan salam tersebut. Sebaiknya tidak perlu ikut-ikutan mengucapkannya. Namun jangan larang atau ragukan iman orang yang karena tuntutan hubungan pergaulan harus berucap. Dalam situasi seperti ini, kita harus berupaya menemukan virtus in medio, kebajikan/ keutamaan yang terletak di antara dua sifat berlebihan. Seperti kata Aristoteles, keutaman atau kebajikan (al-fadhiilah) terletak di tengah-tengah; tidak terlalu ketat sampai berlebihan (tafriith) dan tidak terlalu kendor (ifraath). Itulah wasathiyyah yang perlu ditegakkan melalui konsep moderasi beragama. Intinya, dalam beragama diperlukan sikap luwes dan bijaksana sehingga antara berislam dan bernegara bisa saling sinergi.

Dari semua salam yang ada, maknanya sama-sama mendoakan kebaikan bagi yang mengucapkan, maupun yang mendengar. Bukankah lebih baik memperbanyak salam daripada bertukar kebencian?♦

Pos terkait