“Hiruk pikuk itu membuat PKB nyaris tidak bisa ikut pemilu. Bahkan, pengambilan nomor partai ini juga tidak sah. Karena dia (Yenny Wahid) merasa punya hak (atas PKB) sebagai sekjen, bersama Ali Masykur (sebagai wakil ketua umum); sementara saya sebagai ketua umum tidak punya sekjen,” lanjut Cak Imin.
Maka dari itu, dilakukanlah pergantian sekjen. Yenny digantikan sekjen yang terpilih bareng Cak Imin sebagai Ketua umum PKB dalam Muktamar di Semarang tahun 2005, yaitu Lukman Hakim. “Di situlah (setelah terjadi pergantian Sekjen PKB) KPU menerima. Akhirnya kami sah ikut Pemilu. Tetapi sudah remuk kami ini. Sudah macam-macam lah,” terang Cak Imin.
Terkait kronologis pemecatan dirinya oleh Gus Dur, Cak Imin punya versinya sendiri. Menurut Cak Imin, setelah dia menerima pemecatan dirinya, Gus Dur memanggilnya. Gus Dur, kata Cak Imin, bertanya heran kepadanya; “Kok kamu mau saya pecat?” Cak Imin, sebagaimana klaimnya, merespons pertanyaan itu dengan, “Mau (dipecat), Gus. Buat apa (melawan/mempertahankan)? Daripada berantem, capek.”
Menanggapi reaksi Cak Imin—sebagaimana Cak Imin ceritakan sendiri—Gus Dur langsung menyodorkan surat pengunduran diri untuk Cak Imin. Gus Dur yang bikin draftnya. Cak Imin, sebagaimana diceritakannya sendiri, langsung menandatangani surat itu. Muhaimin mengaku menerima keputusan itu karena ingin konflik di internal PKB berakhir dengan smooth dan partai itu tetap bisa ikut Pemilu.
Setelah menandatangani surat itu, Cak Imin mengaku ada momen yang menurutnya adalah bukti jika Gus Dur adalah sosok yang luar biasa.
“Setelah saya tanda tangan surat dan saya serahkan kepada Gus Dur, apa yang terjadi? Luar biasa. (Gus Dur berkata) ‘Surat saya terima, Min. Tetapi tolong kamu sendiri yang simpan, nanti kamu keluarkan kalau saya benar-benar membutuhkan’,” terang Cak Imin, sembari menirukan Gus Dur waktu itu. “Sampai hari ini, tidak pernah diminta Gus Dur surat itu. Ada di tempat saya. Inilah ‘behind the scene’ yang sesungguhnya,” terang Muhaimin.
Setelah berbagai kericuhan itu, akhirnya PKB bisa lolos ikut Pemilu 2009—kendati perolehan suaranya menurun drastis.
Cak Imin mengaku masih menyimpan surat pemecatan yang dibuat oleh Gus Duritu. Menurut dia, surat itu adalah “azimat” yang tidak boleh diperlakukan sembarangan.
“Maka dari itulah, jangan dibalik-balik, (dengan membangun narasi) saya mengkudeta Gus Dur. Saya yang dikudeta. Tetapi saya terima,” pungkasnya.





