BLITAR — Suhu panas menerpa wilayah Kota dan Kabupaten Blitar. Langit cerah berawan pada pagi hari, dan sore hari cenderung mendung. Ada sebagian yang turun hujan, dan sebagian lagi mendung tak berarti hujan. Orang Blitar menyebutnya sumuk, kondisi udara yang panas tapi lembab sehingga keringat bercucuran. Demikianlah kondisi cuaca di lereng Gunung Kelud sepekan terakhir, sehingga mengundang kewaspadaan, “jangan-jangan Gunung Kelud mau meletus”. Apa yang sebenarnya terjadi?
Cuaca panas yang dirasakan di Kota/Kabupaten Blitar selama beberapa hari terakhir mirip kondisi sebelum letusan Gunung Kelud tanggal 10 Februari 1990. Hampir selama sepekan, warga yang tinggal radius 10-20 kilometer dari Gunung Kelud seperti hidup di atas bara api. Cuaca panas bikin gerah. Bahkan usai mandi air dingin sekalipun, badan langsung basah kuyup karena keringat.
Tanda-tanda Gunung Kelud meletus juga disampaikan warga yang tinggal di Desa Sumberasri, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Berdasar peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Kelud, Desa Sumberasri masuk kawasan rawan bencana 1 radius 14 kilometer dari kawah Gunung Kelud.
Kalau Gunung Kelud meletus, Desa Sumberasri bisa kena material batu berdiameter 10 milimeter, dan terkena aliran lahar dingin yang mengalir di Kali Laharberni yang berhulu di Kali Kuning dan Kali Darapdurgo. Kedua kali tersebut merupakan kantong lahar terbesar di sekitar kawah.
Kondisi ini yang menempatkan Desa Sumberasri dalam posisi rawan bencana terdampak letusan. Pada saat letusan 2014 dan 1990, tanda-tanda alam sudah dirasakan sepekan sebelum letusan. Hewan-hewan yang selama ini jarang terlihat di lereng Kelud seperti harimau, kera, rusa, hingga ular, turun dari kawasan puncak. Hewan-hewan banyak diceritakan warga saat berladang di lereng Kelud. Suasana lereng gunung juga tidak seperti biasanya. Kawasan lereng senyap seperti tidak ada kehidupan.
“Letusan tahun 1990 itu, harinya Sabtu. Hari Jumat kebetulan pulang dari Kediri lewat Ngancar kemudian terus tembus Sumberasri, Blitar. Suasana sepanjang jalan itu sepi senyap. Suara burung atau hewan lain seperti tidak ada. Senyap sekali,” tutur Damanhuri, warga Sananwetan, Kota Blitar.





