Mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) mengembangkan bata beton untuk perkerasan jalan, atau paving block, dengan campuran cangkang kerang dan tulang ikan. Menurut laporan kampus yang terbit Selasa (06/10), formula tersebut dapat mengurangi penggunaan semen hingga sepertiga.
Karya itu meraih medali perunggu dalam MJIIX International Research and Innovation Competition (MJIIX IRIC) di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Senin (28/09).
Timnya terdiri atas Chelsea Hani Marcelia Sundawa, Istirarosa Artisa Putra, dan Ratu Zahra Angelita dari Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK), serta Naila Fatin Afifah dari Fakultas Vokasi.
Chelsea mengatakan gagasan mereka berangkat dari kondisi jalan di salah satu daerah di Tuban, Jawa Timur.
“Kami mengangkat inovasi ini karena melihat kondisi salah satu daerah di Tuban yang jalannya sangat rusak, becek, dan berair. Dari situ kami terpikir untuk membuat paving block yang tidak hanya kuat menahan air dan beban, tetapi juga ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah lokal,” ungkap Chelsea, sebagaimana dimuat dalam laporan Unair.
Mengolah Limbah Menjadi Campuran Semen
Tim menggunakan tepung cangkang kerang kapah dan tulang ikan yang dihaluskan untuk menggantikan sebagian semen. Alginat ditambahkan sebagai bahan perekat.
Cangkang kerang dan tulang ikan diperoleh secara cuma-cuma dari pedagang perikanan di pasar lokal. Pengolahan bahan dilakukan di laboratorium FPK Unair.
Menurut laporan kampus tersebut, bahan dicuci, kemudian dikeringkan dalam oven bersuhu 100 derajat Celsius selama empat hingga lima jam.
Setelah kering, bahan digiling dan diayak. Tim menggunakan ayakan berukuran 100 mesh untuk tulang ikan dan 80 mesh untuk cangkang kerang.
“Satu tahapan penting yang kami lakukan adalah proses kalsinasi pada tepung tulang ikan. Tahap ini bertujuan untuk menghilangkan aroma amis khas ikan, sehingga material paving block yang dihasilkan benar-benar netral dan kokoh seperti semen,” jelas Chelsea.
Pengujian Masih Berskala Laboratorium
Dalam pengujian laboratorium yang dilaporkan Unair pada 2026, paving block tersebut disebut mengering dan mengeras dalam sekitar tiga hari.
Namun, laporan itu tidak mencantumkan angka kekuatan tekan, daya serap air, atau hasil pengujian di jalan. Klaim ramah lingkungan juga belum disertai perhitungan dampak lingkungan dari proses pengolahannya.
Kompetisi yang diikuti tim diselenggarakan Malaysia Japan International Institute of Technology (MJIIT) di Universitas Teknologi Malaysia (UTM), Kuala Lumpur.
Menurut Unair, final berlangsung secara langsung tanpa pembagian kategori berdasarkan jenjang pendidikan. Karya mahasiswa sarjana dinilai bersama riset mahasiswa magister, doktor, hingga dosen.
“Awalnya tidak menyangka bisa meraih bronze medal. Mengingat lawannya tidak hanya sesama mahasiswa S1, tetapi ada jenjang S2, S3, bahkan dosen dari berbagai negara di Asia. Ini experience luar biasa bagi kami,” tutur Chelsea.***





