Muhammadiyah telah memberi contoh bagaimana mengelola kekayaan triliunan rupiah dengan tangan yang tetap bersih dan hati yang tetap membumi.
Koper itu mungkin tampak lusuh di luar, namun di dalamnya tersimpan kekayaan karakter yang tak akan mampu dibeli oleh mata uang mana pun.
Khidmat untuk umat, tulus untuk bangsa. Sebagaimana koper itu terus bergerak mengikuti rute kereta, begitulah pengabdian seharusnya: terus berjalan tanpa perlu bersolek untuk dipuji, hingga sampai di stasiun terakhir kehidupan.***





